Pemkab Kotim Kembangkan Pulau Hanibung Jadi Wisata Alam Berbasis Konservasi 

Kepala Disbudpar Kotim, Ramadansyah. saat memberikan keterangan kepada awak media, Senin (15/6). (Foto : to)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong pengembangan Pulau Hanibung di Kecamatan Kota Besi sebagai destinasi wisata alam unggulan berbasis konservasi yang dinilai memiliki daya tarik kelas dunia. Kekayaan hayati seperti burung enggang, bekantan hingga panorama alami Sungai Mentaya kini mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Pemkab Kotim menilai Pulau Hanibung bukan sekadar kawasan wisata biasa, melainkan aset besar daerah yang mampu mengangkat nama Kotim di sektor pariwisata alam dan ekowisata.

Kepala Disbudpar Kotim, Ramadansyah menyampaikan, wisatawan asing bahkan sudah mulai datang untuk menikmati langsung suasana alami Pulau Hanibung yang masih asri dan terjaga.

“Sudah ada wisatawan dari Norwegia yang datang ke Pulau Hanibung. Informasinya Oktober nanti mereka akan kembali lagi membawa lebih banyak wisatawan,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, kekuatan utama Pulau Hanibung justru terletak pada keaslian alamnya. Di tengah banyaknya destinasi wisata modern, wisatawan luar negeri kini lebih tertarik menikmati suasana hutan tropis alami, melihat langsung burung enggang khas Kalimantan, hingga aktivitas satwa liar seperti bekantan di habitat aslinya.

Selain menikmati panorama alam, wisatawan juga dapat melakukan susur Sungai Mentaya menggunakan perahu tradisional hingga merasakan pengalaman memancing udang galah di sekitar kawasan pulau. Aktivitas tersebut dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Pemkab Kotim pun terus melakukan pengembangan secara bertahap meski di tengah keterbatasan anggaran. Pulau Hanibung sendiri masuk dalam program prioritas Bupati Kotim Halikinnor sebagai kawasan wisata alam unggulan daerah.

Beberapa fasilitas mulai disiapkan, seperti pembangunan jalan titian, penempatan lanting atau dermaga terapung untuk tambat perahu wisatawan, hingga pengawasan kawasan guna menjaga kenyamanan pengunjung dan kelestarian lingkungan.

Ramadansyah menegaskan, pengembangan wisata harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem alam. Karena itu, pemerintah berharap masyarakat ikut menjaga kawasan dari praktik merusak seperti meracun udang maupun perburuan satwa liar.

“Harapan kami masyarakat tidak meracun udang dan tidak memburu bekantan maupun satwa lainnya,” tegasnya.

Saat musim buah tiba, kawasan sepanjang Sungai Mentaya menuju Pulau Hanibung menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan aktivitas bekantan mencari makan di pepohonan pinggir sungai. Pemandangan alami tersebut menjadi magnet tersendiri bagi pecinta wisata alam dan fotografi satwa liar.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat sekitar juga mulai tumbuh. Warga Kota Besi kini mulai membuka jasa perahu wisata, sementara sejumlah pemerhati lingkungan melakukan penanaman pohon buah guna menjaga habitat satwa tetap lestari.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Pulau Hanibung dinilai menjadi simbol bagaimana Kotim mampu menghadirkan destinasi wisata kelas dunia tanpa kehilangan identitas hutan tropis dan nilai konservasinya. Pemerintah daerah berharap kawasan tersebut dapat terus berkembang menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus sumber ekonomi baru berbasis kelestarian alam. (to)

Berita Terkait