



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bergerak cepat menangani dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi beruntun di wilayah Kecamatan Baamang, Senin (15/6/2026) sore hingga malam.
Saat cuaca panas mulai menyelimuti Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir, ancaman kebakaran lahan kembali muncul. Dua titik api yang muncul hanya dalam selang waktu sekitar satu jam membuat petugas pemadam kebakaran dan BPBD harus siaga penuh melakukan penanganan.
Kebakaran pertama terjadi di kawasan Jalan Ir. Soekarno-Hatta atau Lingkar Utara sekitar pukul 17.00 WIB. Begitu menerima laporan, personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim langsung bergerak menuju lokasi.
Dengan jarak tempuh sekitar delapan kilometer, petugas tiba di lokasi dan segera melakukan pemadaman pada lahan di pinggir jalan yang terbakar. Api berhasil dikendalikan dengan cepat sehingga tidak sempat meluas ke area sekitar.
Kepala Bidang Pencegahan Disdamkarmat Kotim, Hery Wahyudi, mengatakan kecepatan penanganan menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran berkembang lebih besar, terutama saat kondisi cuaca mulai kering dan panas.
“Begitu menerima informasi, personel langsung bergerak melakukan penanganan agar api tidak meluas. Lokasi pertama berhasil dipadamkan dalam waktu singkat,” ujarnya.
Lahan yang terbakar pada kejadian pertama diperkirakan seluas 10×10 meter. Dalam laporan awal petugas, kebakaran tersebut juga diduga sengaja dipicu oleh oknum tidak bertanggung jawab. Belum lama petugas kembali ke markas, laporan kebakaran kedua kembali diterima sekitar pukul 18.20 WIB dari kawasan Jalan Padat Karya, Baamang Tengah.
Petugas kembali diterjunkan ke lokasi bersama unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim. Namun medan menuju titik api cukup sulit dijangkau karena berada di kawasan lahan berhutan dengan akses jalan sempit.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan lokasi kebakaran berada sekitar 700 meter dari Jalan Tjilik Riwut dan tidak dapat dilalui kendaraan pemadam maupun unit water tank.
“Jalan menuju lokasi tidak dapat ditempuh kendaraan R4 dan R6 atau unit water tank,” terang Multazam.
Kondisi semakin sulit karena minimnya pencahayaan pada malam hari. Demi keselamatan personel, petugas memutuskan fokus melakukan pemantauan dan pembatasan area kebakaran sambil menunggu penanganan lanjutan dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan.
Dalam penanganan tersebut, BPBD Kotim turut dibantu Relawan Ketapi III untuk melakukan pemantauan titik api di lapangan.
Meski menghadapi kendala medan, Pemerintah Kabupaten Kotim memastikan seluruh personel tetap siaga mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru di tengah cuaca panas yang mulai mendominasi wilayah Kotim.
Pemerintah daerah juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu karhutla lebih luas serta menyebabkan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Pemkab Kotim berharap kesadaran masyarakat menjadi kunci utama mencegah karhutla, terutama saat wilayah ini mulai memasuki musim rawan kebakaran lahan. (to)