Hadapi Fenomena Boti, Disdik Kotim Perkuat Pendidikan Karakter 

Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia saat memberikan keterangan kepada awak media. (Foto :to)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Pendidikan setempat memastikan akan memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah sebagai langkah menghadapi munculnya isu fenomena boti yang belakangan menjadi perhatian masyarakat.

Langkah tersebut disiapkan sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga pembinaan moral dan karakter generasi muda, sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi perkembangan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, mengatakan pihaknya tengah menyusun langkah strategis untuk merespons fenomena tersebut, termasuk melakukan evaluasi terhadap pola pembinaan karakter di sekolah.

“Penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu fokus kami dalam menindaklanjuti isu yang berkembang saat ini. Ini penting untuk memastikan pembentukan kepribadian peserta didik berjalan optimal,” ujarnya, Jum’at (29/5/2026).

Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan semata, melainkan memerlukan sinergi bersama berbagai pihak agar penanganan dapat dilakukan secara komprehensif.

Disdik Kotim, kata dia, akan menggandeng sejumlah instansi terkait seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), dinas kesehatan, hingga tokoh masyarakat.

“Kami ingin langkah yang diambil benar-benar terukur dan melibatkan banyak pihak agar pembinaan terhadap anak-anak dapat dilakukan secara tepat,” katanya.

Selain koordinasi lintas sektor, pemerintah daerah juga akan meninjau kembali efektivitas kurikulum pembelajaran karakter yang selama ini diterapkan di sekolah.

Evaluasi itu bertujuan memastikan pendidikan karakter tidak hanya sebatas materi pembelajaran, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa melalui pembiasaan positif di lingkungan sekolah.

Meski isu tersebut ramai diperbincangkan, Yolanda menegaskan hingga kini pihaknya belum menerima laporan resmi terkait adanya fenomena tersebut di tingkat SD maupun SMP yang berada di bawah kewenangan Pemkab Kotim.

“Secara resmi belum ada laporan yang masuk kepada kami terkait hal tersebut di satuan pendidikan kabupaten,” tegasnya.

Ia menjelaskan, informasi yang beredar saat ini lebih banyak merujuk pada lingkungan pendidikan tingkat SMA dan SMK yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.

Kendati demikian, Pemkab Kotim memastikan tetap akan mengambil bagian dalam upaya koordinasi dan pencegahan demi menjaga kualitas pendidikan di daerah. (to)

Berita Terkait