



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menegaskan keberhasilan anak menjalani masa transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama (SMP) tidak hanya bergantung pada lingkungan sekolah. Peran orang tua dan guru dinilai menjadi faktor utama dalam membimbing anak agar mampu beradaptasi, membangun karakter, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Pesan tersebut disampaikan Irawati saat menghadiri pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru. Menurutnya, fase memasuki SMP merupakan masa yang cukup menentukan karena anak mulai menghadapi perubahan lingkungan, pola belajar, hingga pergaulan yang lebih luas.
Ia mengatakan, MPLS harus dimanfaatkan sebagai proses pembinaan karakter, bukan sekadar kegiatan memperkenalkan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Pada momen inilah nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, dan etika mulai ditanamkan kepada peserta didik.
“Yang dulunya mereka dianggap masih anak-anak. Namun mudah-mudahan dengan mereka beralih masa transisi ke sekolah menengah pertama, mereka mempunyai kemandirian, keberanian, dan tentunya mempunyai karakter yang lebih bagus serta punya adab,” ujarnya, Selasa (14/7/202).
Menurut Irawati, anak usia SMP berada pada fase perkembangan yang penuh rasa ingin tahu. Di satu sisi kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan potensi, namun di sisi lain juga memerlukan pengawasan dan pendampingan agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.
Karena itu, ia meminta guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi pembimbing yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik. Sementara orang tua diharapkan tetap aktif mendampingi anak di rumah agar pendidikan karakter berjalan selaras antara sekolah dan keluarga.
“Usia-usia seperti ini adalah usia yang labil. Mereka serba ingin tahu, tetapi bagaimana lagi tentunya kita serahkan kepada bapak ibu guru yang tentunya bisa mendidik anak-anak kita,” katanya.
Irawati menyebut, pembentukan karakter dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak perlu dibiasakan mengatur waktu, menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri, menjaga kedisiplinan, hingga bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai pelajar.
Selain itu, Irawati juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan gawai. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan justru mengurangi interaksi sosial maupun kedisiplinan anak.
Ia juga mengingatkan peserta didik agar tidak menggunakan sepeda motor ke sekolah karena belum memenuhi ketentuan usia untuk berkendara. Keselamatan anak, kata dia, harus menjadi perhatian bersama.
“Mulai dari bangun tidur, menyiapkan pakaian, berangkat sekolah sendiri kalau memang rumahnya dekat atau punya sepeda. Jangan sampai menggunakan sepeda motor karena belum cukup usia,” tegasnya. (to)