



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah tahun 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan seluruh masyarakat agar lebih memperhatikan pengelolaan limbah hewan kurban. Warga maupun panitia pelaksana kurban diminta tidak membuang darah, isi rumen, jeroan, maupun sisa organ hewan ke saluran drainase, parit, sungai, dan badan air lainnya.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi guna menjaga kebersihan lingkungan, mencegah pencemaran, serta menghindari gangguan kesehatan masyarakat akibat limbah organik yang tidak dikelola dengan baik selama pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.
Kepala DLH Kotim, Marjuki, menegaskan bahwa momentum Iduladha merupakan kegiatan keagamaan yang sarat nilai ibadah dan kepedulian sosial, namun dalam pelaksanaannya tetap harus memperhatikan aspek kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, limbah hasil penyembelihan hewan kurban yang dibuang sembarangan dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari bau menyengat, penyumbatan saluran air, hingga berpotensi mencemari sumber air masyarakat apabila masuk ke drainase atau sungai.
“Limbah kurban jangan dibuang ke saluran drainase atau badan air. Jika tidak dikelola dengan baik, selain mencemari lingkungan juga dapat menimbulkan bau tidak sedap serta mengganggu kenyamanan warga sekitar,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).
Ia menjelaskan, setiap panitia kurban di masjid, musala, maupun lingkungan permukiman diharapkan menyiapkan tempat penampungan khusus untuk menampung limbah sementara sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan mengubur limbah organik di lokasi yang aman dan jauh dari sumber air, atau menyerahkannya kepada pihak yang memiliki fasilitas pengelolaan limbah yang memadai.
Selain itu, area penyembelihan juga harus segera dibersihkan setelah proses pemotongan selesai. Darah dan sisa kotoran yang dibiarkan menumpuk dapat menjadi sumber bakteri, mengundang lalat, serta memicu aroma tidak sedap yang mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.
DLH Kotim juga mendorong panitia kurban untuk memastikan sistem sanitasi di lokasi penyembelihan berjalan baik. Penggunaan alas plastik, saluran pembuangan sementara, serta penyediaan air bersih dinilai penting untuk menjaga kebersihan selama proses pemotongan berlangsung.
Marjuki menambahkan, kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah kurban merupakan bagian dari tanggung jawab sosial bersama. Menurutnya, pelaksanaan ibadah kurban yang bersih dan tertib akan memberikan kenyamanan bagi semua pihak serta mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Iduladha bukan hanya tentang berbagi dan beribadah, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Ini menjadi bentuk tanggung jawab bersama yang harus dijaga,” ujarnya.
Melalui kampanye bertajuk “Qurban Bersih, Lingkungan Asri, Ibadah Lebih Berarti”, DLH Kotim berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pengelolaan limbah kurban secara benar. (to)