Stand Up Comedy di Indonesia? Barang Lama

Oleh : Cholid Tri Subagiyo

Stand up comedy merupakan komedi tunggal yang dilakukan dengan berdiri statis, sebuah aksi panggung monolog tanpa skenario tertulis, yang menyampaikan materi secara spontan. Berbeda dengan lawakan yang umumnya dilakukan di Indonesia, yang menampilkan skenario drama dan dialog lebih dari satu orang, ditambah dengan tingkah konyol yang menimbulkan gelak tertawa penonton.

Stand Up Comedy dikenal sebagai kecerdasan humoris yang trend saat ini, yang menceritakan tentang kehidupan diri sendiri yang mungkin layak untuk ditertawakan orang lain, yang dianggap konyol tetapi kenyataan ini sering kali dirasakan oleh orang lain pula.

Stand up comedy juga kerap kali digunakan untuk menyoroti kinerja pemerintah atau pernyataan politik dengan bahasa yang satir, mengkritik dan menyindir dengan tujuan tertentu, untuk mengungkapkan kelemahan, kekurangan, dan ketidakadilan dengan harapan adanya kesadaran untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

Bahkan, dengan stand up comedy dijadikan alat bagi seseorang tokoh untuk menunjukkan kelapangan, penerimaan hati, untuk  dikritik dan disindir secara terbuka di depan publik. Dalam stand up comedy, hal ini diistilahkah dengan sebutan roasting.

Gaya humor bak stand up comedy sebetulnya sudah lama ada di budaya Indonesia, gaya lawakan tutur yang bisa dilakukan secara monolog, juga menjadi budaya Bangsa Indonesia, perbedaannya  pertunjukan komedi di Indonesia banyak disampaikan dengan Bahasa daerah dan iringan music sederhana untuk memberikan suasanal

Bahkan gaya pertunjukan humor seperti ini telah lama dilakukan para macan panggung Indonesia. Tentu bagi umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia, jok-jok lucu sering kali dituturkan para mubalik saat mereka dakwah agar yang hadir tidak bosan, selain itu untuk lebih mudah menyampaikan hikmah-hikmah kehidupan  serta hukum-hukum syariat yang tentunya harus ditaati dalam menjalani kehidupan.

Pelbagai pengalaman kehidupan menjadi objek lucu yang diceritakan, yang menjadi pembeda cara penyampaian para mubalik bukan bertujuan humor atau lawakan, bahkan bukan roasting yang pada prespektif tertentu dinilai kurang mengedepankan sopan santun. Mungkin karena menyadur lawakan ala Amerika, stand up comedy tidak mempertimbangkan sopan santun ala Nusantara.

Berbeda kisah-kisah lucu yang disampaikan mubalik, para mubalik lebih berhati-hati dalam menyampaikan sindirian dan kritikan. Mereka tidak langsung menyampaikan kritikan, tetapi mendulukan memberikan nilai-nilai hikmah dalam norma agama. Tetapi secara tidak langsung, para hadirin menyambut dengan gelak tawa karena paham maksud dan tujuan sang mubalik tadi.

Kembali pada objek kisah lucu, cara menyampaikan rasa humor secara monolog sebetulnya disetiap tempat ada, tetapi berbeda-beda cara dan tujuannya. Jadi bagi bangsa Nusantara, dikenal istilah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lawakan stand up comedy memang berbeda cerita lucu yang disampaikan penceramah agama, tetapi penampilan lucu bergaya monolog, Indonesia tidak bisa dinilai kurang dari budaya bangsa lain. ***

Berita Terkait