



KUALA KURUN, KaltengEkspres.com – Bupati Gunung Mas (Gumas) Jaya Samaya Monong bersama Dandim 1018/GMS Letkol Arm Danang Wahyu Utomo mengikuti video conference (vidcon) terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di jajaran Kodam XXII/Tambun Bungai.
Kegiatan tersebut dipimpin Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, yang turut dihadiri forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), pejabat eselon III dari perangkat daerah terkait dan jajaran Kodim 1018/GMS.
“Pada vidcon itu, saya memaparkan perkembangan penanganan karhutla. Dimana jumlah hotspot atau titik panas di Kabupaten Gumas sudah mengalami penurunan secara signifikan. Namun, kabut asap di sejumlah wilayah masih cukup tebal,” ucap Jaya, Jumat (16/10/2026).
Jaya menyebutkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gumas juga tetap memperpanjang status tanggap darurat bencana karhutla. Penanganannya itu terus dilakukan lebih maksimal, melalui upaya kolaborasi dengan unsur forkopimda, instansi terkait bersama masyarakat.
“Upaya pemadaman juga terbantu hujan lebat yang tercatat terjadi tiga kali, dengan durasi lebih dari satu jam. Itu sangat membantu kami memadamkan karhutla hampir di seluruh titik api,” terangnya.
Dia menyampaikan, Pemkab Gumas akan membuka peluang untuk mendiskusikan penerapan metode baru termasuk pendekatan melalui pembinaan adat, sebagai salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah karhutla.
“Kami tetap komitmen meningkatkan kesiapsiagaan sesuai arahan dari Pangdam XXII/Tambun Bungai. Seluruh pihak juga harus semakin kuat menghadapi ancaman karhutla,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan dalam upaya penanganan karhutla, pemkab sudah mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah pusat, melalui Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng. Permohonan itu berupa pembangunan 100 unit sumur bor serta pengadaan 12 unit mobil pemadam kebakaran.
“Pembangunan sumur bor memiliki manfaat jangka panjang yaitu sebagai sumber air bersih masyarakat sekaligus akan menjadi sumber air untuk kendaraan pemadam kebakaran (damkar), dalam penanganan karhutla,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan jumlah armada, lanjut dia, pemkab mengambil langkah dengan memodifikasi 34 unit kendaraan dinas milik sejumlah perangkat daerah. Kendaraan itu sudah dilengkapi tandon air maupun mesin pompa portabel untuk mendukung operasional pemadaman di lapangan.
“Kendaraan modifikasi terbukti sangat membantu operasional pemadaman di lapangan. Sinergi dan kepedulian semua pihak jadi kunci untuk menekan risiko karhutla, lindungi kesehatan masyarakat dan cegah meluasnya dampak kabut asap,” tegasnya.
Terpisah Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin mengakui, berdasarkan hasil evaluasi, karhutla diduga kuat berkaitan dengan aktivitas manusia, baik itu oleh masyarakat maupun oknum tertentu yang sengaja melakukan pembakaran.
“Karhutla masih jadi persoalan serius, yang perlu memerlukan perhatian dan kerja sama dari seluruh pihak. Upaya pencegahan harus diperkuat melalui edukasi, patroli rutin, pengawasan lingkungan serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran,” tuturnya. (sa)