Pemkab Kotim Siapkan Tiwah Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Bupati Kotim Halikinoor saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (12/6). (Foto : to)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menyiapkan ritual adat Tiwah sebagai salah satu daya tarik wisata budaya daerah. Ritual sakral masyarakat Dayak Hindu Kaharingan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda budaya tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga kelestarian tradisi leluhur.

Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, selama ini pelaksanaan Tiwah mendapat dukungan pemerintah daerah melalui bantuan hibah kepada kelompok masyarakat penyelenggara. Namun ke depan, pelaksanaannya akan diarahkan menjadi program resmi yang dikelola lebih terstruktur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK).

“Selama ini memang pemerintah daerah membantu melalui hibah. Ke depan, Tiwah tidak lagi semata-mata bantuan kepada kelompok masyarakat, tetapi menjadi program yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Halikinnor, Jum’at (12/6/2026).

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan Tiwah dapat dijadwalkan secara rutin dan masuk dalam kalender wisata budaya daerah. Dengan adanya agenda yang pasti, promosi budaya Dayak di Kotim diharapkan bisa lebih dikenal luas hingga menarik kunjungan wisatawan dari luar daerah.

“Saya minta supaya dilakukan koordinasi dengan Majelis Agama Hindu Kaharingan agar menjadi agenda tetap. Kalau bisa, harapan kita Tiwah menjadi salah satu destinasi wisata, sehingga orang datang ke sini bisa melihat langsung prosesi Tiwah,” ujarnya.

Halikinnor menilai, Tiwah bukan hanya ritual adat semata, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Prosesi adat tersebut menjadi simbol penghormatan terakhir kepada leluhur dan bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Ia meyakini, apabila dikelola dengan baik, pelaksanaan Tiwah tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan diyakini mampu menggerakkan sektor UMKM, kuliner, kerajinan hingga jasa transportasi dan penginapan.

“Budaya daerah harus tetap dijaga. Kalau bisa sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tentu itu sangat baik,” tuturnya.

Selain membahas pengembangan Tiwah sebagai agenda wisata budaya, Pemkab Kotim juga menindaklanjuti usulan hibah dari organisasi Hindu Kaharingan. Menurut Halikinnor, bantuan tersebut masih akan dipelajari menyesuaikan kemampuan keuangan daerah dan kelengkapan administrasi.

“Akan dipelajari dulu surat-menyuratnya. Mereka mengusulkan seluruh kebutuhan, namun prinsipnya kalau memungkinkan akan kita berikan, kalau tidak ya sebagian yang bisa kita hibahkan,” tandasnya. (to)

Berita Terkait