



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam memperkuat pengelolaan lingkungan mulai menunjukkan hasil positif. Melalui berbagai program penanganan sampah dan peningkatan kesadaran masyarakat, volume sampah harian di wilayah perkotaan kini mengalami penurunan signifikan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim mencatat, volume sampah yang sebelumnya mencapai sekitar 98,5 ton per hari kini turun menjadi sekitar 70 ton per hari. Penurunan tersebut dinilai sebagai capaian penting dalam upaya mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan tertata.
Kepala DLH Kotim, Marjuki, mengatakan penurunan volume sampah terlihat dari berkurangnya jumlah ritase armada pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari di kawasan perkotaan Sampit.
“Sekarang berkisar 14 sampai 22 rit per hari, bahkan kadang turun menjadi 14 hingga 16 rit. Ini menunjukkan tren penurunan,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Marjuki, capaian tersebut tidak terlepas dari langkah serius yang dilakukan Pemkab Kotim dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah, mulai dari edukasi masyarakat, penataan depo sampah, hingga mendorong pemilahan sampah sejak dari tingkat rumah tangga.
Ia menjelaskan, masyarakat terus diedukasi agar memilah sampah menjadi tiga kategori utama, yakni sampah organik, non-organik, dan limbah berbahaya. Langkah sederhana tersebut diyakini memiliki dampak besar dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Kalau pemilahan berjalan, sampah yang masuk ke TPA akan jauh lebih sedikit,” katanya.
Selain menekan volume sampah, program pemilahan juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat. DLH Kotim berharap kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan terus meningkat seiring dengan semakin baiknya sistem pelayanan persampahan yang dijalankan pemerintah daerah.
Marjuki menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, pihaknya terus mengajak warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Jangan hanya memviralkan depo yang penuh, tetapi membiarkan kebiasaan membuang sampah sembarangan,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Kotim tetap berupaya maksimal menjaga kualitas layanan kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup. Saat ini, alokasi anggaran pengelolaan sampah di DLH Kotim sekitar Rp4,3 miliar atau hanya sekitar 0,1 persen dari APBD.
Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk operasional pengangkutan sampah, tetapi juga untuk kebutuhan pelayanan kebersihan lainnya, termasuk gaji petugas lapangan yang setiap hari bekerja menjaga kebersihan kota.
Meski demikian, pemerintah daerah terus mencari terobosan agar pelayanan lingkungan hidup dapat semakin optimal dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang kini didorong ialah perubahan status layanan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
DLH Kotim juga terus mengembangkan laboratorium lingkungan hidup yang telah terakreditasi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan publik di bidang lingkungan.
Menurut Marjuki, apabila pengelolaan layanan tersebut berjalan optimal, potensi pendapatan daerah yang dapat dihasilkan mencapai Rp3,5 hingga Rp4 miliar per tahun.
“Potensi ini cukup besar, tapi perlu dukungan kebijakan agar bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.
Pemkab Kotim berharap tren penurunan volume sampah ini dapat terus dipertahankan dan menjadi momentum untuk membangun budaya hidup bersih di tengah masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, pengelolaan lingkungan yang baik diyakini mampu menciptakan kota yang lebih nyaman, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (to)