



PALANGKA RAYA, KaltengEkspres.com – Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalteng belum mereda, bahkan makin meluas. Berdasarkan Laporan Harian Sirine Posko Krisis Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah per 17 September 2026, Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat luasan pemadaman tertinggi, yakni 24,87 Ha dari sembilan kejadian.
Selanjutnya, Kabupaten Seruyan tercatat 20,25 Ha dari enam kejadian, Pulang Pisau 14,50 Ha dari lima kejadian, Kapuas 14,20 Ha dari delapan kejadian, Barito Utara 12 Ha dari empat kejadian, dan Katingan 10 Ha dari tiga kejadian.
Sementara itu, penanganan Karhutla juga dilakukan di Kabupaten Barito Selatan dengan luasan 4,37 Ha, Kotawaringin Barat 3,50 Ha, Gunung Mas 3 Ha, Kota Palangka Raya 2 Ha, Sukamara 1,10 Ha, Lamandau 0,50 Ha, Barito Timur 0,05 Ha, dan Murung Raya 0,06 Ha.
Kepala BPBPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, untuk percepatan penanganan karhutla, sebanyak 10.700 personel gabungan dikerahkan di berbagai wilayah. Operasi juga didukung enam unit helikopter serta satu unit pesawat OMC/patroli.
Selain unsur satgas di lapangan, sebanyak 44 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Kalimantan Tengah turut terlibat aktif dalam kegiatan pemadaman dan penyekatan. Hingga saat ini, jajaran OPD Provinsi Kalimantan Tengah telah melaksanakan 504 kegiatan pemadaman dan penyekatan, dengan total area yang berhasil diamankan mencapai 105,93 Ha.
“BPBPK Kalteng terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan operasi, terutama dalam pengerahan personel, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta penanganan pada wilayah yang dinilai rawan terjadi Karhutla,”ujarnya, Jumat (18/9).
Sementara itu, berdasarkan informasi BMKG Kalimantan Tengah, kondisi Karhutla dan sebaran asap masih perlu diwaspadai. Titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah, dengan sebaran asap hingga beberapa provinsi di Kalimantan dan lintas batas menuju negara tetangga.
Jarak pandang di sejumlah wilayah juga dilaporkan terbatas. Kondisi kualitas udara di Palangka Raya dan Pangkalan Bun berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Selain itu, kondisi lahan yang kering hingga sangat kering turut meningkatkan potensi terjadinya Karhutla. (Ro)