



PALANGKA RAYA, KaltengEkspres.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sejak Januari hingga 8 September 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng mencapai 9.169,22 hektare, dengan jumlah hot spot sebanyak 105.019 titik.
Pada pemantauan harian 8 September 2026, terdeteksi 879 titik hotspot yang berasal dari sejumlah satelit pemantauan, yakni Aqua/Terra sebanyak 19 titik, NOAA 800 titik, dan SNPP 60 titik. Peningkatan aktivitas karhutla tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, terlebih tren kebakaran menunjukkan peningkatan signifikan sejak Agustus 2026.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus mengoptimalkan langkah penanganan secara terpadu, mulai dari pemadaman darat, dukungan operasi udara, patroli pencegahan, hingga edukasi kepada masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama kabupaten/kota, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus bergerak melakukan penanganan di lapangan. Upaya dilakukan secara maksimal untuk mencegah api meluas serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujar Ahmad Toyib.
Berdasarkan data rekapitulasi, tiga wilayah dengan luasan karhutla kumulatif terbesar berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan luas 2.447,84 hektare, Kabupaten Pulang Pisau sebesar 1.264,01 hektare, dan Kabupaten Kotawaringin Barat mencapai 1.103,74 hektare.
Lonjakan karhutla mulai terlihat pada Agustus 2026, dengan tambahan luas area terbakar mencapai 4.898,06 hektare. Tren tersebut kembali meningkat pada September 2026. Dalam kurun waktu delapan hari, tercatat penambahan luas lahan terbakar sebesar 2.581,38 hektare.
“Khusus pada 8 September 2026, tercatat 56 kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 202,47 hektare,”ucapnya.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, lanjut dia, Pemprov Kalteng telah mengerahkan sekitar 10.700 personel gabungan dari berbagai unsur terkait. Selain itu, sebanyak 43 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat provinsi turut dilibatkan dalam mendukung upaya pengendalian karhutla di berbagai wilayah.
Penanganan juga diperkuat melalui dukungan udara. Pemerintah mengoptimalkan enam unit helikopter untuk pelaksanaan water bombing serta satu unit pesawat patroli yang sekaligus mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dalam pelaksanaan OMC, digunakan pesawat C208B EX/PK-FPU dengan penaburan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram di wilayah udara Kalimantan Tengah. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Selain fokus pada pemadaman, pemerintah juga terus memantau dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Hingga 8 September 2026, tercatat 79.081 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan 6.734 kasus di antaranya terjadi pada minggu keempat Agustus 2026.
“Masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan, khususnya dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara menurun serta mengikuti informasi dan arahan dari instansi terkait,”bebernya.
Dari sisi penegakan hukum, penanganan terhadap dugaan pelanggaran karhutla juga terus dilakukan. Hingga saat ini, terdapat 32 kasus karhutla yang telah ditindaklanjuti secara hukum. Data Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah mencatat 25 Laporan Polisi dengan 27 orang tersangka, dengan area terdampak kurang lebih 449 hektare.
Sementara itu, langkah pencegahan terus diperkuat melalui patroli terpadu dan sosialisasi larangan pembakaran lahan. Satbrimob Polda Kalimantan Tengah bersama unsur terkait melaksanakan patroli dan edukasi di sejumlah wilayah rawan, di antaranya kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 21 dan Lapangan Tembak Brimob.
Kegiatan serupa juga melibatkan Balakar 654, Masyarakat Peduli Api (MPA), Tim Serbu Api Kebakaran (TSAK), serta kelompok relawan di berbagai wilayah rawan karhutla. (Ro)