



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan keseriusannya dalam menangani persoalan genangan yang selama ini dikeluhkan masyarakat Kota Sampit. Di bawah komitmen memperkuat infrastruktur perkotaan dan meningkatkan kenyamanan warga, Pemkab Kotim langsung bergerak cepat melakukan normalisasi drainase di sejumlah titik rawan banjir dan genangan.
Sebagai langkah konkret di lapangan, tiga unit ekskavator diterjunkan untuk mempercepat pengerukan sedimentasi lumpur dan pengangkatan sampah yang selama ini menghambat aliran air menuju Sungai Mentaya. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir yang menyebabkan sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman di Sampit kerap tergenang air.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin persoalan genangan terus berulang tanpa penanganan nyata. Karena itu, pemeliharaan dan normalisasi drainase menjadi salah satu prioritas utama yang kini dipercepat pengerjaannya.
“Kami mulai melakukan pemeliharaan drainase di beberapa titik prioritas untuk mengurangi risiko banjir saat curah hujan tinggi,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Mentana, sedimentasi lumpur yang cukup tebal ditambah tumpukan sampah rumah tangga menjadi penyebab utama aliran drainase tidak berjalan maksimal. Kondisi tersebut membuat air hujan mudah meluap ke badan jalan hingga masuk ke kawasan permukiman warga, terutama di daerah dengan elevasi rendah.
Ia menjelaskan, proses normalisasi saat ini difokuskan di wilayah Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang yang selama ini menjadi kawasan dengan tingkat genangan cukup tinggi ketika hujan deras mengguyur Kota Sampit.
“Pekerjaan dilakukan bertahap. Kami menyesuaikan kondisi lapangan agar seluruh titik yang mengalami pendangkalan bisa segera tertangani,” katanya.
Untuk mempercepat proses pengerjaan, Pemkab Kotim menggunakan alat berat karena banyak saluran drainase yang sudah mengalami penyempitan dan sulit dijangkau secara manual. Tiga ekskavator saat ini dioperasikan di lokasi berbeda agar penanganan bisa berjalan lebih efektif dan maksimal.
“Tiga alat berat kami operasikan di beberapa titik strategis seperti Jalan Dewi Sartika, kawasan ring drain Sei Mentawa, dan jalur Christopel Mihing,” jelas Mentana.
Langkah cepat yang dilakukan Pemkab Kotim ini mendapat perhatian positif masyarakat karena dinilai sebagai bentuk respons nyata pemerintah daerah terhadap persoalan lingkungan perkotaan yang berdampak langsung pada aktivitas warga.
Selain untuk mengurangi genangan saat hujan, normalisasi drainase juga diharapkan mampu menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, mengurangi kerusakan jalan akibat genangan berkepanjangan, serta menciptakan lingkungan kota yang lebih bersih dan tertata.
Pemkab Kotim juga mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air. Sebab, keberhasilan penanganan drainase tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan dan kesadaran bersama dari seluruh elemen masyarakat.
Dengan langkah percepatan yang kini dilakukan, Pemkab Kotim berharap persoalan genangan di Kota Sampit dapat berangsur teratasi sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat pembangunan infrastruktur yang lebih optimal, aman dan berkelanjutan. (to)