Warga Binaan Lapas Pangkalan Bun Isi Waktu Bercocok Tanam

BERKEBUN – Warga binaan Lapas Kelas II Pangkalan Bun diajari bercocok tanam. Foto : Yosboob

Pangkalan Bun, KaltengEkspres.com – Sambil menunggu masa hukumannya berakhir, warga binaan di Lapas IIB Pangkalan Bun mengisi waktu dengan hal-hal positif. Selain dibekali ketrampilan seperti membuat kerajinan limbah bekas, warga binaan ini juga mengisi waktunya dengan bercocok tanam, Jumat 6 Maret 2020.

Lahan yang dinamakan asimilasi warga binaan pemasyarakatan (WBP) open camp Pbun ini oleh warga binaan lapas Pangkalan Bun dengan menanam terong, labu, kacang panjang, kangkung, ketela dan tanaman lainnya jenis sayur-sayuran.

Tidak hanya itu warga binaan pemasyarakatan Pangkalan Bun juga diajarkan memelihara ikan dan berternak ayam. Salah satu warga binaan Lapas Tabanan, WS mengatakan, banyak hal positif yang bisa ia dapatkan dengan kegiatan bercocok tanam ini. Selain menghilangkan stress, ia juga mendapatkan ilmu dan informasi mengenai cara bercocok tanam dan ketrampilan dibidang pertanian lainnya. ‘’Karena tidak hanya sekedar bercocok tanam kami juga diajarkan memelihara ikan dan ternak ayam,’’ ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan MS. Warga binaan Lapas Pangkalan Bun ini mengakui sedang menikmati melakukan cocok tanam di kebun lapas. Kegiatan ini diakuinya mengurangi rasa bosan dan stres. ‘’Terus terang bosan dan stress hilang. Sebab, kami tidak selalu melihat tembok dan jeruji jadi pikiran bisa tenang,’’ ujarnya..

Sementara itu Kalapas Pangkalan Bun Kusnan mengungkapkan, setiap hari sebanyak 4 sampai 5 orang warga binaan Lapas Pangkalan Bun melakukan aktivitas bercocok tanam. Tidak sembarang napi yang dapat melakukan kegiatan ini. Harus melalui tahap seleksi. ‘’Syaratnya adalah napi tersebut sudah menjalani setengah masa tahanan,’’ ujarnya.

Syarat lain yang menjadi penilaian utama adalah prilaku dan kelakuan warga binaan ketika berada didalam lapas. Agar tidak begitu di lokasi bercocok tanam mereka melarikan diri. ‘’Syarat lain, mereka harus memiliki skill dan kemauan untuk bekerja. Saat mereka bekerja ada petugas lapas yang mengawasi,’’ ujar Kusnan.

Dengan kegiatan ini pihaknya berharap tidak ada pengangguran baru ketika warga binaan tersebut keluar dari lapas. Kegiatan itu juga dapat membantu mereka menghilangkan rasa kejenuhan, bosan stress dan memacu semangat mereka untuk lebih bekerja.

“Selain itu kami berharap kerjasama dari pemerintah Kotawaringin Barat. Semisalnya ada tanah negara atau tanah pemda yang terbengkelai dapat dijadikan tempat asimilasi. Sehingga warga binaan bisa lebih efektif melakukan aktivitasnya saat menjalani masa tahanannya,” tandasnya. (yusbob/hs)

Berita Terkait
<