Dinkes Kotim Perkuat Antisipasi Ancaman ISPA dan Diare

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim, Nughoro Koncoro saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa (21/7). (Foto :to)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memperkuat langkah antisipasi terhadap penyakit yang berpotensi meningkat, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare.

Selain mengoptimalkan kesiapsiagaan seluruh fasilitas kesehatan, Dinkes juga mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga dengan tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala penyakit.

Sepanjang tahun 2026, Dinkes Kotim mencatat sebanyak 14.987 kasus ISPA dan 3.852 kasus diare. Meski ISPA masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi selama musim kemarau, tren kasusnya dinilai masih relatif stabil. Sementara itu, kasus diare mulai menunjukkan peningkatan sehingga menjadi fokus pengawasan Dinkes.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim, Nughoro Koncoro Yudho, menjelaskan bahwa perubahan cuaca saat musim kemarau memang berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Kualitas udara yang menurun akibat debu maupun kabut asap dapat meningkatkan risiko ISPA, sedangkan suhu panas dan kurang terjaganya kebersihan makanan serta air minum dapat memicu meningkatnya kasus diare.

“ISPA memang masih menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan, namun pergerakannya masih relatif sama dibanding bulan sebelumnya. Yang mulai kami waspadai sekarang adalah peningkatan kasus diare karena penyakit ini dapat berkembang cepat apabila tidak segera ditangani,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, diare tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Kehilangan cairan tubuh secara terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berisiko mengancam keselamatan pasien apabila terlambat memperoleh penanganan medis.

Ia mengungkapkan, Dinkes Kotim pernah menangani kasus meninggalnya seorang bayi akibat diare. Hasil evaluasi menunjukkan pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah mengalami dehidrasi berat sehingga penanganan menjadi lebih sulit.

“Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai kondisi tubuh lemas atau kesadarannya menurun baru datang ke puskesmas maupun rumah sakit. Semakin cepat ditangani, peluang sembuh juga semakin besar,” katanya.

Kelompok bayi dan balita menjadi perhatian utama karena lebih mudah mengalami dehidrasi. Saat sakit, anak-anak umumnya mengalami penurunan nafsu makan dan minum sehingga kehilangan cairan tubuh berlangsung lebih cepat. Meski demikian, seluruh kelompok usia tetap memiliki risiko apabila diare tidak segera mendapatkan penanganan.

Berdasarkan pemantauan Dinkes, tiga kecamatan yang saat ini menjadi perhatian karena angka kasus diare relatif lebih tinggi adalah Mentawa Baru Ketapang, Parenggean, dan Cempaga. Sementara untuk ISPA, kasus lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan, terutama Kecamatan Baamang yang memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi.

Ia menilai masih terdapat sebagian masyarakat yang terlambat mencari pertolongan medis karena lebih dahulu mencoba pengobatan tradisional atau mempercayai mitos tertentu. Kondisi tersebut menyebabkan pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berkembang lebih berat.

“Kami menghormati budaya yang ada di masyarakat, namun untuk penyakit seperti diare dan ISPA sebaiknya segera diperiksa oleh tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, Dinkes Kotim telah menginstruksikan seluruh puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan kesehatan agar meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan. Persediaan obat-obatan, cairan infus, oralit, masker, serta berbagai logistik kesehatan juga terus dipastikan tersedia.

Selain itu, Dinkes berencana menyalurkan sekitar 20 ribu masker medis kepada masyarakat apabila kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

Dinkes juga terus menggencarkan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mulai dari pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang, menjaga kebersihan air minum, memperbanyak konsumsi air putih saat cuaca panas, hingga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara menurun. (to)

Berita Terkait
<