



PALANGKA RAYA, KaltengEkspres.com – Masyarakat Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Seruyan, mengeluhkan terkait tingginya standar grading yang ditentukan oleh pabrik kelapa sawit, yakni mencapai 5 persen dari standar normal yang hanya 2 persen. Sehingga hal tersebut dinilai sulit bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pekebun kelapa sawit mandiri atau swadaya di wilayah tersebut.
Hal tersebut diungkapkan oleh wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) II, yang meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Seruyan, Fajar Hariady, pada saat melaksanakan reses beberapa waktu yang lalu.
“Menyikapi hal itu, kami langsung sampaikan aspirasi masyarakat ke pihak pabrik dan respon mereka pun baik. Kami diajak untuk melihat langsung buah produksi kebun dari masyarakat petani setempat dimana buahnya kotor, memiliki tangkai yang panjang dan masa panennya sudah lewat dari 24 jam, sehingga kualitas buah menurun,” kata Fajar, Selasa (1/9/2020).
Pihak pabrik pun menjelaskan, bahwa buah sawit dari hasil produksi masyarakat petani setempat bermalam terlalu lama di kebun, sehingga menyebabkan buah menjadi tidak segar lagi serta kandungan asam menjadi tinggi.
Untuk itu, Fajar menyebutkan bahwa pihaknya berpendapat, para petani tersebut harus dibina melalui penyuluhan bukan hanya masalah budidaya sawit, tapi juga tentang bagaimana manajemen mutu yang baik sehingga buah ketika disalurkan masih segar dan memiliki daya serap tinggi.
“Kami rasa masyarakat petani itu perlu dibina bukan saja soal budidaya, tapi juga manajemen mutu. Dan ini merupakan tugas pemerintah untuk dapat melakukan sosialisasi atau penyuluhan tersebut, agar hasil produksi masyarakat dapat terjaga mutu dan kualitasnya,” katanya. (Ra)