Ratusan Massa AMKM Geruduk Kantor Gubernur Kalteng

Massa saat membentangkan spanduk sembari berorasi di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Senin (19/10). (Foto : IST)

Tuntut Karhutla Ditetapkan Status Bencana Nasional 

PALANGKA RAYA, KaltengEkspres.com – Ratusan mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan (AMKM) menggelar aksi unjuk rasa damai di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Senin (19/10/2026).

Dalam orasinya, mereka menuntut agar kebakaran hutan dan lahan ditetapkan sebagai bencana nasional. Mereka menilai karhutla yang terjadi hingga mengakibatkan kabut asap pekat saat ini telah mencemari udara Kalteng dan masuk katagori sangat berbahaya. Sehingga membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat untuk segera mengambil kebijakan menetapkan status bencana nasional.

Sen, salah seorang pengunjuk rasa mengatakan, persoalan karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah, tetapi juga melanda sejumlah daerah di Indonesia.

“Bencana karhutla ini tidak hanya terjadi di seluruh pulau Kalimantan, melainkan di Sumatra dan Papua. Banyak korban jiwa yang sudah jatuh, akibat dampak asap yang ditimbulkan dari karhutla tersebut. Pemerintah harus mengambil sikap jangan hanya menganggap bencana ini hanya bencana biasa,”ungkapnya saat menyampaikan orasinya.

“Presiden seakan-akan tutup mata. Prabowo hanya menerima laporan, tapi tidak tahu bagaimana nasib kita di sini,” ujarnya lagi.

Ia menyebut, hingga saat ini sudah ada sekitar 91.000 kasus kesehatan yang dikaitkan dengan dampak kabut asap Karhutla di Kalteng.

“Karena itu kita yang tinggal di Kalteng ini lambat laun jika tidak ditanggulangi akan menjadi calon korban berikutnya,”tegasnya.

Selain Presiden, massa juga meminta Wakil Presiden, Kepala BNPB, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan, dan Menteri Kesehatan turun langsung ke Kalimantan Tengah.

“Kami menuntut agar pemerintah pusat datang ke sini untuk merasakan, tidak hanya menerima laporan, tetapi harus merasakan bagaimana rasanya menghirup udara yang sangat berbahaya selama empat bulan lebih,”tandasnya.

Sementara itu, dalam aksi unjuk rasa ini sempat terjadi ketegangan karena massa mamaksa masuk Kantor Gubernur untuk bertemu Gubernur Kalteng.

Mereka bahkan berhasil merengsek masuk ke dalam kantor serta bertemu Gubernur Kalteng Agustiar. Di depan Gubernur Kalteng yang menghampiri mereka, massa menyampaikan orasinya mendesak agar Gubernur meminta pemerintah pusat menetapkan status tanggap bencana.

Mereka bahkan memperagakan orasi mengotong mayat sebagai tanda bahwa keadilan yang  berpihak pada masyarakat telah mati. (Ro)

Berita Terkait
<