



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meningkat selama musim kemarau.
Selain mengerahkan seluruh personel dan peralatan yang tersedia di lapangan, pemerintah daerah juga mengajukan bantuan satu unit helikopter water bombing kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sebagai langkah mempercepat pengendalian kebakaran di titik-titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemkab Kotim untuk melindungi keselamatan masyarakat, menjaga kualitas udara, serta mencegah meluasnya kebakaran yang berpotensi mengganggu aktivitas warga, pelayanan publik, hingga transportasi udara.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kotim terus mengoptimalkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Posko Penanganan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah. Sinergi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penanganan sekaligus memastikan setiap potensi kebakaran dapat segera dikendalikan sebelum meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan pemerintah daerah telah berkomunikasi dengan pemerintah provinsi untuk meminta dukungan helikopter water bombing. Bantuan tersebut dibutuhkan karena masih terdapat beberapa lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan maupun personel pemadam.
“Sejak sekitar satu minggu terakhir kejadian karhutla di Kabupaten Kotim sudah cukup banyak. Ada yang dapat kami tangani, namun ada juga yang belum dapat kami tangani,” kata Multazam, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, penggunaan helikopter merupakan opsi lanjutan setelah berbagai upaya pemadaman melalui jalur darat dilakukan secara maksimal. Dukungan udara dinilai penting untuk menjangkau kawasan yang aksesnya terbatas maupun area yang apinya masih aktif di bawah permukaan lahan gambut.
“Sejak kemarin kami berkomunikasi dengan Posko Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah untuk dapat dibantu unit heli water bombing. Ini adalah upaya terakhir kami untuk memadamkan daerah Eka Bahurui,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD juga telah diterjunkan ke sejumlah lokasi untuk melakukan kaji cepat. Hasil penilaian di lapangan akan menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam menentukan rencana operasi penanganan, termasuk keputusan pengerahan helikopter.
Hingga saat ini, BPBD masih menunggu hasil kaji cepat serta keputusan dari Posko Penanganan Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah terkait permohonan bantuan tersebut.
“Masih menunggu info update kaji cepat lapangan dan rencana operasi bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah,” jelasnya.
Selain kawasan Eka Bahurui, kebakaran juga terjadi di wilayah Baamang dengan luas sekitar tiga hektare. Meski upaya pemadaman terus dilakukan, lokasi tersebut masih mengeluarkan asap dan memiliki potensi kembali membesar apabila kondisi cuaca tetap panas dan kering.
Posisinya yang berada sekitar tiga mil dari Bandara H Asan Sampit juga menjadi perhatian karena asap berpotensi mengganggu jarak pandang apabila kebakaran tidak segera dikendalikan.
Pemkab Kotim menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mengedepankan langkah pencegahan. Edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran yang lebih luas, khususnya di kawasan bergambut. (to)