Harga Anjlok, Pemkab Kotim Siapkan Kesepakatan Harga Telur

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah daerah menyiapkan kesepakatan harga bersama yang akan melibatkan peternak, distributor, agen, DPRD, serta instansi terkait agar perdagangan telur berjalan lebih sehat dan tidak merugikan salah satu pihak.

Langkah itu diambil setelah Wakil Bupati Kotim, Irawati, memimpin inspeksi mendadak ke sejumlah distributor dan agen telur di Sampit, Senin (29/6/2026). Sidak dilakukan sebagai tindak lanjut atas keluhan peternak ayam petelur lokal yang mengaku harga jual hasil produksi mereka terus merosot hingga mengancam keberlangsungan usaha.

Dalam peninjauan tersebut, pemerintah menemukan harga jual telur dari distributor kepada agen berada di bawah kisaran harga acuan nasional. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu faktor yang ikut menekan harga telur di tingkat peternak.

“Kita tidak ingin ada pihak yang dirugikan. Peternak harus tetap bisa bertahan, tetapi masyarakat juga harus memperoleh telur dengan harga yang wajar,” ujar Irawati.

Ia menjelaskan, pemerintah tidak hanya berupaya melindungi peternak lokal, tetapi juga memastikan masyarakat tetap dapat membeli telur dengan harga yang terjangkau. Karena itu, kebijakan yang akan diambil harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen, pelaku usaha, dan konsumen.

Menurut Irawati, harga acuan nasional tetap menjadi pedoman. Namun penerapannya di Kalimantan Tengah perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi daerah melalui koordinasi bersama pemerintah provinsi sebelum diterapkan di tingkat kabupaten.

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kotim akan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan untuk menyusun kesepakatan harga yang nantinya menjadi acuan dalam perdagangan telur di daerah. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat menciptakan kepastian harga sekaligus menjaga iklim usaha peternakan tetap kondusif.

Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat pengawasan rantai distribusi agar penurunan harga di tingkat distributor benar-benar berdampak pada harga yang dibayar masyarakat.

“Kita akan mengawasi bersama. Jangan sampai harga sudah turun di distributor, tetapi masyarakat tetap membeli dengan harga yang tinggi,” tegasnya.

Irawati menilai keberadaan peternak ayam petelur lokal memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Jika banyak peternak menghentikan usahanya karena terus merugi, Kotim akan semakin bergantung pada pasokan telur dari luar daerah yang berpotensi membuat harga semakin sulit dikendalikan.

Sementara itu, salah satu distributor yang dikunjungan tim, pemilik distributor SJS Telur, Habib, mengatakan harga jual telur kepada agen saat ini berkisar Rp26.500 per kilogram atau sekitar Rp245 ribu per ikat yang berisi enam sap. Menurutnya, harga tersebut merupakan salah satu yang terendah dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan seluruh pasokan telur yang dipasarkan perusahaannya berasal dari Pulau Jawa dengan kebutuhan sekitar 2.000 ikat setiap bulan untuk memenuhi permintaan pasar di Kotim. Meski demikian, kondisi pasar dinilai masih lesu sehingga penyesuaian harga juga harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.

“Dengan harga sekarang saja pembeli masih relatif sepi. Namun kami juga memahami kondisi peternak yang terdampak akibat harga terus turun,” pungkasnya. (to)

Berita Terkait