Hadapi Kemarau, Pemkab Kotim Persiapkan Distribusi Air Bersih Daerah Rawan 

Bupati Kotim Halikinnor saat menyalurkan air bersih ke warga beberapa waktu lalu (Foto : IST)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dan cenderung lebih kering.

Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga pelayanan dasar masyarakat, terutama ketersediaan air bersih di wilayah-wilayah rawan kekeringan.

Berdasarkan data BMKG prakiraan musim Kalimantan Tengah, wilayah Kotawaringin Timur telah memasuki awal musim kemarau sejak awal Juni 2026. Kondisi tersebut diprakirakan berlangsung hingga September 2026, dengan durasi sekitar 100 hingga 120 hari. Tahun ini, musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat dan memiliki tingkat kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Wilayah selatan Kotim kembali menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Karakter geografis serta ketergantungan masyarakat terhadap sumber air hujan dan tampungan alami menjadikan kawasan tersebut lebih rentan terhadap dampak musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipatif sejak dini, mulai dari pemantauan kondisi lapangan, pemetaan wilayah rawan, hingga penguatan koordinasi lintas sektor.

“Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis kondisi cuaca, potensi kekeringan diperkirakan mulai muncul pada pertengahan hingga akhir Juli. Karena itu, kami sudah menyiapkan langkah kesiapsiagaan sejak sekarang,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, kesiapsiagaan tersebut tidak hanya difokuskan pada pemantauan, tetapi juga pada penyusunan skema penanganan apabila terjadi penurunan ketersediaan air bersih di masyarakat. Pemerintah daerah telah menyiapkan mekanisme distribusi air bersih secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan di lapangan.

“Nanti ada kemungkinan kita harus menyalurkan air bersih terutama ke wilayah-wilayah yang benar-benar terdampak dan mengalami kesulitan akses air bersih,” tambahnya.

Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi meskipun terjadi perubahan cuaca ekstrem yang berulang setiap tahun.

Selain itu, upaya ini juga menjadi bagian dari penguatan strategi mitigasi berbasis musim, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan.

Pemkab Kotim menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat hingga tingkat kecamatan dan desa, agar respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terukur.

Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, pemerintah daerah berharap potensi dampak kekeringan dapat ditekan secara maksimal, serta pelayanan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih tetap terjaga selama musim kemarau tahun ini.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau berlangsung, serta mulai mengoptimalkan penampungan air hujan sebagai langkah antisipatif di tingkat rumah tangga. (to)

Berita Terkait