



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring meningkatnya potensi kebakaran memasuki musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 7 Juni 2026, tercatat sebanyak 48 kejadian karhutla terjadi di sejumlah wilayah. Dari jumlah tersebut, 42 kejadian telah berhasil ditangani melalui respons cepat petugas di lapangan bersama unsur terkait.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan, pemerintah daerah terus mengoptimalkan berbagai upaya pencegahan guna meminimalkan dampak karhutla terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Penanganan terus kami lakukan secara maksimal. Selain pemadaman di lapangan, kami juga memperkuat patroli, pemantauan titik panas, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Multazam, Selasa (9/6/2026).
Data sementara menunjukkan luas lahan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 101,59780 hektare. Wilayah selatan menjadi kawasan dengan luasan terdampak terbesar, yakni 52,91500 hektare atau sekitar 52,08 persen dari total luasan yang tercatat. Sementara wilayah tengah mencapai 47,23280 hektare dan wilayah utara sekitar 1,45000 hektare.
Selain itu, hasil pemantauan menunjukkan terdapat 189 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kecamatan di Kotim. Beberapa wilayah yang tercatat memiliki jumlah hotspot cukup tinggi antara lain Kecamatan Mentaya Hulu, Telaga Antang, Bukit Santuai, dan Antang Kalang.
Menurut Multazam, kondisi cuaca yang cenderung kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan. Karena itu, BPBD bersama instansi terkait terus meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Memasuki musim kemarau, kami terus mengintensifkan langkah antisipasi agar kejadian karhutla dapat ditekan sedini mungkin. Pencegahan menjadi fokus utama karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, Pemkab Kotim juga terus mendorong penguatan sistem deteksi dini, pelaksanaan patroli terpadu, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran lahan.
Pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga wilayahnya masing-masing dengan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, relawan, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga risiko karhutla dapat diminimalkan. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama demi keselamatan dan keberlanjutan pembangunan daerah,” tutup Multazam. (to)