



SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun 2026. Fokus utama diarahkan pada perlindungan sektor pertanian agar produktivitas pangan masyarakat tetap terjaga meski menghadapi potensi kekeringan.
Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Pemkab Kotim menyiapkan berbagai sarana pendukung pengairan seperti pompa air, jaringan irigasi perpipaan hingga pembangunan sumur bor di sejumlah kawasan pertanian strategis.
Kepala DPKP Kotim, Yephi Hartady Periyanto, mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang dapat berdampak langsung terhadap produksi pertanian masyarakat.
Menurutnya, ancaman terbesar sektor pertanian saat ini bukan hanya banjir, tetapi juga potensi kekeringan berkepanjangan ketika musim kemarau mulai memasuki puncaknya pada Juli hingga Agustus mendatang.
“Kalau air mulai berkurang tentu harus ada langkah cepat. Karena itu kami menyiapkan pompa, jaringan pipa dan sumur bor untuk membantu kebutuhan air pertanian,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Yephi menjelaskan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga telah meminta pemerintah daerah untuk aktif mengusulkan bantuan sarana pengairan guna menjaga ketahanan pangan nasional. Kotim sendiri disebut telah menerima bantuan irigasi di beberapa titik dan kembali mengajukan tambahan fasilitas untuk memperkuat daerah sentra produksi padi.
Adapun wilayah yang menjadi prioritas penguatan infrastruktur pengairan meliputi kawasan pertanian di Lempuyang, Ganepo hingga Batu Agung, Kecamatan Telaga Antang. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu penopang utama produksi beras di Kotim.
Selain menyiapkan infrastruktur air, pemerintah daerah juga terus memantau kondisi lahan pertanian pasca banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kotim beberapa waktu lalu. Namun hingga saat ini, DPKP memastikan kondisi area persawahan masih dalam kategori aman dan belum mengalami kerusakan serius.
“Genangan lebih banyak terjadi di kawasan permukiman karena drainase penuh. Sementara untuk lahan pertanian justru air masih cukup membantu kebutuhan tanaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, mayoritas petani di Kotim saat ini sudah mulai memasuki musim tanam. Pemerintah berharap percepatan masa tanam dapat membuat proses panen berlangsung sebelum kemarau panjang terjadi sehingga risiko gagal panen bisa ditekan semaksimal mungkin.
Langkah antisipasi ini dinilai penting mengingat sektor pertanian memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat pedesaan. Jika produksi pangan terganggu akibat kekeringan, dampaknya tidak hanya dirasakan petani tetapi juga mempengaruhi ketersediaan bahan pangan dan harga di pasaran.
Karena itu, Pemkab Kotim berkomitmen terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat maupun kelompok tani agar seluruh kebutuhan sarana pengairan dapat dipenuhi tepat waktu. (to)