Dewan Dorong UMKM Lokal Naik Kelas

PALANGKA RAYA, Kaltengekspres.com – Kalangan DPRD Kalteng kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Produk-produk khas seperti kerajinan tangan batik Dayak, tas dan dompet dari anyaman rotan, gelang Lilis Lamiang, hingga makanan khas seperti amplang, kue tradisional, dan beras ketan hitam dinilai perlu mendapat dukungan lebih serius dari pemerintah daerah.

Anggota Komisi I DPRD Kalteng, Yohannes Freddy Ering, mengatakan bahwa UMKM lokal merupakan tulang punggung ekonomi rakyat yang terbukti mampu bertahan dalam tekanan ekonomi, termasuk saat pandemi. Namun, untuk bisa bersaing lebih luas, dibutuhkan strategi penguatan dari sisi promosi, legalitas produk, hingga akses pemasaran digital.

“UMKM kita sangat kreatif, dan punya identitas lokal yang kuat. Produk seperti batik Dayak, tas rotan, gelang Lilis Lamiang, atau beras ketan hitam itu punya nilai jual tinggi kalau dikemas dengan baik dan dipromosikan secara modern,” ungkap Freddy, Selasa (08/7).

Freddy menjelaskan, banyak pelaku UMKM di daerah yang masih terkendala permodalan, perizinan usaha, serta tidak memiliki sertifikasi halal dan PIRT yang dibutuhkan untuk memperluas pasar. Oleh sebab itu, DPRD mendorong dinas terkait agar lebih proaktif memberikan pendampingan teknis dan fasilitasi pelatihan yang langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha.

“Jangan hanya berhenti di pelatihan seremonial. Yang dibutuhkan UMKM adalah akses ke pasar, platform digital, pameran luar daerah, dan kemudahan modal bergulir. Ini yang harus kita kawal,”katanya.

Freddy menyoroti bahwa produk khas Kalteng memiliki potensi ekspor, terutama ke pasar wisatawan dan pecinta budaya nusantara. Bahkan, akses ke toko oleh-oleh, galeri kerajinan, hingga e-commerce lokal harus diperkuat sebagai jembatan bagi UMKM menuju pasar nasional.

Ia juga mengapresiasi sejumlah UMKM yang telah berhasil menembus pasar daring dengan mengandalkan narasi budaya lokal sebagai kekuatan utama. Namun ia menegaskan, agar potensi ini tidak terputus di tengah jalan, perlu ada intervensi kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah, termasuk mendorong kolaborasi antara pelaku UMKM dan sekolah kejuruan (SMK) dalam inovasi produk.

“Kita bisa mulai dari hal kecil, misalnya mendorong penggunaan batik khas daerah dalam seragam, memberikan ruang di pusat perbelanjaan lokal, dan melibatkan UMKM dalam event resmi daerah,”tambahnya.

Di akhir keterangannya, ia menyatakan siap mendorong penguatan anggaran untuk pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal pada APBD tahun-tahun mendatang.

“Kalau UMKM tumbuh, ekonomi daerah ikut bangkit. Ini bukan hanya soal dagang, tapi soal membangun identitas dan kebanggaan daerah,”tandasnya. (gel)

Berita Terkait