

KUALA KURUN, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas (Gumas) melakukan peluncuran atau launching batik khas Kabupaten Gumas, yang diberi nama Batik Tambun Bungai.
Ini merupakan identitas dan ciri khas daerah yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, khususnya sebagai salah satu identitas busana untuk ASN pada lingkungan pemkab.
“Peluncuran batik ini bukan sekadar perkenalkan produk batik atau pakaian daerah. Lebih dari itu, juga merupakan salah satu langkah nyata dalam memperkuat identitas daerah, melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap,” ujar Bupati Gumas Jaya Samaya Monong, Kamis (5/11/2026).
Menurut Jaya, Batik Tambun Bungai harus menjadi simbol yang merepresentasikan identitas dan kekayaan budaya daerah, yang memiliki ciri khas potensi dan kebanggaan budaya yang patut dikenal, dihargai dan dilestarikan.
“Kami ingin Batik Tambun Bungai tidak hanya jadi kebanggaan secara budaya, akan tetapi juga bisa menjadi produk unggulan daerah yang mempunyai daya saing dan dikenal lebih luas,” terangnya.
Ia meminta kepada seluruh ASN di lingkungan pemkab agar mendukung dan menggunakan Batik Tambun Bungai sebagai salah satu identitas dan kebanggaan daerah. Melalui penggunaan batik khas daerah, maka itu turut menunjukkan rasa bangga terhadap daerah, sekaligus menjadi contoh nyata dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
“Saya berharap batik Tambun Bungai tidak hanya dikenakan ketika kegiatan seremonial atau acara tertentu saja, tapi bisa menjadi bagian dari budaya kerja dan identitas sebagai ASN Kabupaten Gumas,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh kepala perangkat daerah agar dapat mendukung penggunaan Batik Tambun Bungai di lingkungan kerja masing-masing, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan pengaturan pakaian dinas yang berlaku.
“Mari kita mulai dari diri sendiri, dan dari lingkungan kerja dari hal-hal sederhana. Salah satunya dengan menggunakan batik khas daerah,” ujarnya.
Jaya berharap, batik Tambun Bungai harus terus dikembangkan, dipromosikan serta diperkenalkan kepada masyarakat luas, baik itu di tingkat provinsi, nasional, maupun berbagai kesempatan lainnya.
“Saya mengajak seluruh untuk jadikan momentum peluncuran ini sebagai awal dari komitmen bersama dalam mencintai, menggunakan, mempromosikan dan melestarikan budaya daerah,” katanya.
Ia mendorong dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) Kabupaten Gumas untuk bersinergi dengan perangkat daerah terkait, perajin, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan batik khas daerah, sehingga kedepannya dapat memberi nilai tambah ekonomi, membuka peluang usaha dan tingkatkan kesejahteraan para pelaku industri kerajinan dan masyarakat.
“Mari kita bangga dengan batik khas daerah sendiri. Saat kita menggunakan dan memperkenalkan batik khas Kabupaten Gumas, sesungguhnya kita sedang membawa identitas, budaya dan nama baik daerah,” tegasnya.
Terpisah, Ketua Dekranasda Kabupaten Gumas Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong mengatakan, Batik Tambun Bungai merupakan wujud nyata dari kreativitas, kerja keras dan kolaborasi pemerintah daerah, dekranasda dan para pengrajin lokal.
“Dengan goresan malam dan kain, kami berhasil merajut identitas visual daerah kita menjadi Batik Tambun Bungai. Motif yang diluncurkan itu bukan sekedar pola estetika. Di dalam terkandung cerita, dan filosofi mendalam serta simbol kebanggaan masyarakat Gumas,” terangnya.
Ia menjelaskanm filosofi dari batik Tambun Bungai diilhami kekayaan sejarah, nilai kearifan lokal serta kebudayaan luhur masyarakat Dayak. Lalu, makna motif memperlihatkan lambang dan figur Tambun dan Bungai yang merupakan pahlawan perang legendaris dari masa Kerajaan Purba Suku Dayak Ngaju, yaitu Kerajaan Tanjung Pematang Sawang.
“Pada Batik Tambun Bungai, sentuhan motif ukiran dan ornamen daun atau bunga khas Dayak yang dipadukan dengan warna dasar kuning keemasan, merah dan hijau juga melambangkan keagungan, keberkahan alam, kesuburan serta kejayaan masyarakat Gumas,”tandasnya. (sa)