Pemkab Kotim Dorong UMKM Masuk Pasar Digital

Plt Kepala Diskop dan UMKM Kotim Muslih serta Kadiskominfo Kotim Coki saat foto bersama jajarannya di Stand FBIM. (Foto : IST)

SAMPIT, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat langkah strategis untuk membangkitkan kembali geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang belakangan menghadapi tantangan besar akibat perubahan pola belanja masyarakat, persaingan usaha hingga efisiensi anggaran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kotim, Muslih, mengatakan, pihaknya kini tengah menyusun berbagai formula baru agar UMKM di daerah itu kembali hidup dan mampu berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Menurutnya, kondisi saat ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Tidak sedikit usaha kecil, terutama sektor kuliner dan kafe, mulai mengalami penurunan omzet bahkan ada yang terpaksa gulung tikar akibat persaingan bisnis yang semakin ketat.

“Kami masih mencari formula bagaimana UMKM di Kabupaten Kotim ini bisa hidup kembali dan berkembang. Ini tidak bisa dilakukan satu OPD saja, tetapi harus kolaborasi bersama seluruh pihak,” ujar Muslih, Jum’at (22/5/2026).

Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. Berbagai upaya mulai disiapkan, termasuk memperkuat pusat-pusat UMKM dan mendorong keterlibatan lintas sektor untuk membantu pelaku usaha bertahan.

Salah satu langkah yang kini mulai diarahkan yakni mendorong UMKM masuk ke pasar digital. Menurut Muslih, perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini membuat pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan teknologi.

“Sekarang masyarakat lebih banyak memilih cara praktis dan online. Mau tidak mau UMKM juga harus mengikuti perkembangan teknologi supaya tidak tertinggal,” katanya.

Karena itu, pihaknya mulai menjajaki kerja sama dengan layanan ojek online untuk membantu memasarkan produk UMKM lokal agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

Konsep tersebut nantinya diharapkan mampu mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen melalui sistem digital yang lebih cepat dan praktis.

“Kami sedang membahas bagaimana kawan-kawan ojek online ini bisa bermitra bersama UMKM. Jadi nanti pembeli lebih mudah mendapatkan produk lokal tanpa harus datang langsung,” jelasnya.

Muslih mengungkapkan, pola bisnis seperti itu dinilai menjadi salah satu solusi yang realistis di tengah menurunnya kunjungan masyarakat ke pusat-pusat perdagangan konvensional.

Ia mencontohkan, saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha di Kotim yang berkembang melalui sistem penjualan online dan mampu menjadi wadah bagi UMKM lain untuk ikut memasarkan produknya.

“Nah ini menjadi contoh bagi kita. Ada usaha yang memang berkembang karena bisnis online dan sudah menampung produk-produk UMKM lokal. Harapannya pola seperti itu bisa diikuti yang lain,” ucapnya.

Selain digitalisasi, Pemkab Kotim juga tetap menilai kegiatan bazar dan event UMKM memiliki dampak besar terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

Menurutnya, bazar menjadi salah satu cara paling efektif untuk menghidupkan aktivitas perdagangan karena masyarakat dan pelaku usaha berkumpul dalam satu lokasi sehingga transaksi ekonomi meningkat.

“Kalau ada bazar, UMKM pasti lebih hidup. Pengunjung datang berkumpul di satu titik dan otomatis perputaran uang meningkat,” katanya.

Kendati demikian, ia mengakui pelaksanaan bazar belakangan mulai berkurang akibat kebijakan efisiensi anggaran yang membuat ruang gerak pemerintah menjadi terbatas.

Meski begitu, Muslih menegaskan kondisi tersebut tidak membuat pemerintah kehilangan semangat dalam mendukung UMKM. Pihaknya kini mulai menggandeng pihak ketiga dan sponsor untuk membantu menghadirkan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat.

“Kami sudah mulai komunikasi dengan pihak ketiga supaya tetap ada event-event UMKM, walaupun skalanya kecil. Yang penting pelaku usaha tetap punya ruang untuk bergerak dan memasarkan produknya,” tegasnya.

Ia juga menilai tantangan UMKM saat ini bukan hanya soal modal, tetapi bagaimana pelaku usaha mampu menghadirkan inovasi dan mempertahankan minat konsumen di tengah persaingan yang semakin ketat.

Menurutnya, fenomena menjamurnya usaha kafe di Sampit menjadi contoh nyata bagaimana persaingan bisnis berjalan sangat cepat. Banyak usaha ramai di awal pembukaan, namun perlahan mulai kehilangan pelanggan.

“Persaingan bisnis sekarang memang luar biasa. Karena itu pelaku usaha harus terus berinovasi agar tetap diminati masyarakat,” ungkapnya.

Ke depan, Pemkab Kotim berkomitmen terus memperkuat pembinaan terhadap pelaku UMKM mulai dari peningkatan kualitas produk, pemasaran digital, penguatan kemasan hingga memperluas akses promosi dan pasar. (to)

Berita Terkait