Home / Budaya/Wisata / Potret Desa / Pulang Pisau

Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:39 WIB

Warga Dayak Parahangan Ritual Mampakan Sahur

Masyarakat Dayak di Desa Parahangan, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, melalui penyelenggaraan ritual Mampakanan Sahur Lewu, yang digelar sejak 8 hingga 10 Oktober 2021. Foto : Ist

Masyarakat Dayak di Desa Parahangan, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, melalui penyelenggaraan ritual Mampakanan Sahur Lewu, yang digelar sejak 8 hingga 10 Oktober 2021. Foto : Ist

PALANGKA RAYA, KaltengEkspres.com – Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) mempunyai ikatan kuat dengan nilai-nilai leluhur dan alam lingkungannya. Seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat Dayak di Desa Parahangan, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, melalui penyelenggaraan ritual Mampakanan Sahur Lewu, yang digelar sejak 8 hingga 10 Oktober 2021.

Ritual adat tahunan ini digelar sebagai permohonan keselamatan agar dijauhkan dari malapetaka, bencana, wabah, sekaligus memperkuat hubungan manusia dan alam. Melalui ritual ini, warga juga berharap kerukunan dan toleransi antarsuku, golongan, dan agama serta adat-istiadat yang ada di Desa Parahangan tetap terjaga.

Meski ritual adat ini merupakan bagian dari ritus budaya Dayak Hindu Kaharingan, namun semua warga dari beragam agama di desa yang terletak di tepi Sungai Kahayan ini turut berpartisipasi menyiapkan, menyambut, dan merayakannya.

“Acara ini bukan hanya semata pesta adat, tapi adalah upaya untuk mengukuhkan toleransi antarumat beragama dan kebersamaan warga,” kata Kepala Desa Parahangan Agus Yulianto, Minggu (10/10/2021).

Baca Juga :  Bupati Apresiasi Kunjungan Menteri Pertanian RI

Sahur Lewu dimulai pada sore hari, Jumat (8/10/2021) di Rumah Ibadah Kaharingan Desa Parahangan. Empat orang pemimpin ritual atau basir duduk di depan altar sambil mengucapkan mantra dan doa secara bersahutan diiringi tetabuhan ritmik katambung, sebuah alat musik sejenis gendang yang terbuat dari kulit biawak.

Beraneka ragam sesaji terhidang di hadapan para basir. Usai mantra-mantra pembuka, satu per satu warga mendatangi basir di depan altar menyematkan secarik kain doa di lengan basir sambil menyampaikan harapan-harapannya.

Pada malam harinya, ritual dilanjutkan dengan pawai di sepanjang jalan desa dan di tepian Sungai Kahayan dipimpin oleh para basir. Ritual ini disebut mamapas lewu, yang merupakan bagian dari sahur lewu. Setelah itu, rombongan berhenti sejenak di tepi Sungai Kahayan untuk menggelar doa dan melarung beberapa simbol ritus ke sungai.

Salah satu doa dalam Bahasa Sangiang yang dipanjatkan oleh basir saat di sungai, yaitu “Pukung Pahewan” yang diartikan sebagai “hutan lindung”, memiliki arti yang sangat lekat dengan menjaga kelestarian alam dan seisinya.

Baca Juga :  Keunikan Rumah Adat Suku Dayak Pasir Panjang

“Dengan Mamapas Lewu ini kami berharap desa ini akan terhindar dari hal-hal negatif, seperti wabah penyakit, bencana alam, serta gangguan-gangguan lainnya, baik yang nampak maupun gangguan dari roh halus yang bersifat negatif,” tutur Rabiadi, basir utama yang memimpin jalannya ritual mampakanan sahur lewu dan mamapas lewu.

Sementara itu, Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Borneo Nature Foundation (BNF) Indonesia, Yuliana Nona, yang turut hadir di acara ritual menyatakan sangat mengapresiasi ritual ini. Spirit yang dihadirkan ritual sahur lewu ini sejalan dengan program pendampingan masyarakat yang dilaksanakan oleh BNF di Desa Parahangan.

“Kami saat ini sedang mendampingi warga Parahangan dalam menjalankan perhutanan sosial. Kami mendampingi masyarakat mengelola hutan desanya agar lestari dan terjaga, serta dapat menjalankan kegiatan ekonomi produktif yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Upaya ini sejalan dengan semangat yang hendak dihadirkan melalui ritual sahur lewu ini,” pungkasnya. (hs)

Share :

Baca Juga

Hukum Kriminal

Ini Alasan Karyawan PT BEST Gelapkan Transmisi Truk

Pulang Pisau

Bejat, Guru Honorer Gagahi Siswi SMP di Sekolah

Pulang Pisau

Bawa Samurai, Warga Pulpis Diciduk Polisi

Pulang Pisau

Pasar Mingguan di Maliku Berkobar

Pulang Pisau

Status Tanggap Darurat Covid-19 Diperpanjang

Budaya/Wisata

Ini Prosesi Ritual Warga Hindu Kaharingan

Pulang Pisau

Edy Pratowo Targetkan 8 Kursi Legislatif

Pulang Pisau

Laka Beruntun, Dua Sopir Tewas di tempat