Diserang Buzzer Bayaran, Denny Indrayana: Alhamdulillah

Banjarmasin,KaltengEksores.com – Partai Gerindra dan Partai Demokrat resmi memberikan rekomendasi kepada Guru Besar Hukum Tata Negara yang juga Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. H. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D, untuk maju sebagai Calon Gubernur Kalimantan Selatan dalam pilkada serentak yang akan digelar 9 Desember 2020. Denny berpasangan dengan Drs. H. Difriadi (Haji Difri) sebagai Calon Wakil Gubernur.

Baru selang 2 (dua) hari setelah rekomendasi diberikan, muncul serangan black-campaign kepada Denny Indrayana dengan kembali mengangkat isu basi, yaitu kasusnya yang sudah lama berhenti di kepolisian.

“Dalam waktu beberapa jam saja, tuduhan dan kabar hoax kepada Denny jadi trending di twitter, padahal sebelumnya isu ini tidak ada sama sekali ketika Denny mencari dukungan rekomendasi dari partai.Sudah dipastikan ini ulah buzzer bayaran, dari para lawan politik Denny”, ujar Muhammad Uhaib As’ad, Pengamat politik dari Direktur Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik, Banjarmasin.

“Serangan ini bisa dikatakan gol bunuh diri. Pertama, dari segi isu yang diangkat, sudah basi dan tidak akan memberikan dampak serius bagi pencalonan Denny. Kedua, dari segi waktu, serangan ini adalah respon reaktif dan panik dari keberhasilan Denny meraih dukungan Gerindra dan Demokrat. Ini justru menunjukkan bahwa kekuatan Denny sudah diperhitungkan sebagai kandidat pemenang, dan sudah membuat gentar lawan-lawannya di pemilihan gubernur”, sambung Uhaib yang juga pendiri Jaringan Cendekiawan Borneo.

Dimintai tanggapannya, Haji Denny, begitu dia biasa dipanggil menjawab santai, “Itukan kerjaan buzzer yang sedang mencari rezeki. Mereka mendapatkan bayaran dengan bekerja seperti itu. Biarkan saja. Saya justru bersyukur karena dibantu makin viral, alhamdulillah. Ayo tetap fokus dengan ide hijrah dan perbaikan bagi Kalsel, jangan mau diganggu dengan isu-isu hoax bayaran,” ujar Denny sambil tersenyum.

Twitter memang sempat diramaikan dengan hastag #DennyCagubKoruptor yang tiba-tiba ada begitu saja, pesan itu disertai ajakan untuk tidak memilih Denny. Isu yang diangkat adalah kriminalisasi kasus Denny yang sempat muncul di tahun 2015.
Pada tahun 2015, Denny Indrayana pernah diperkarakan. Tidak sendirian, ada 3 orang lain yang ditetapkan tersangka yakni Abraham Samad, Bambang Widjojanto, dan Novel Baswedan. Semuanya adalah para pejuang antikorupsi yang saat itu bekerja sebagai komisioner dan pegawai KPK. Novel bahkan sekarang matanya buta, karena disiram air keras oleh kaki tangan koruptor yang dendam karena kegigihan Novel memberantas korupsi di tanah air.

Banyak pihak menilai kasus yang menimpa Denny dkk merupakan rekayasa, kriminalisasi, dan serangan balik para koruptor. Para tokoh nasional antikorupsi seperti Jimly Asshidiqie (Anggota DPD RI), Mahfud MD (Menko Polhukam), Saldi Isra (Hakim MK), Refly Harun (Tokoh Nasional), hingga organisasi antikorupsi seperti Indonesia Corruption Watch (ICW), PuKAT Korupsi UGM, semuanya meminta kriminalisasi Denny dihentikan. Bahkan Denny juga didukung oleh lembaga internasional Melbourne Law School yang menyebutnya sebagai tokoh reformasi yang berani dan jujur, sehingga justru mengundangnya menjadi Guru Besar tamu di Universitas Melbourne, Australia.

Pertarungan pemilihan gubernur Kalsel agaknya sudah dimulai, biasanya kalau sudah kepepet, berbagai jurus mabuk memang dikeluarkan, termasuk jurus “maling teriak maling”.(yan/rif).

Berita Terkait