Diduga Gusur Lahan Masyarakat, Warga Tumbang Manggu Kecam PT PSAM

KASONGAN, Kaltengekspres.com
Perusahaan yang bergerak disektor perkebunan kelapa sawit PT Persada Sejahtera Agro Makmur (PSAM) menuai kecaman dari masyarakat Desa Tumbang Manggu Kecamatan Sanaman Mantikei. Pasalnya, perusahaan ini diduga telah melakukan penggusuran lahan masyarakat desa setempat.

Akibat aksi penggusuran ini, masyarakat setempat merasa dirugikan. Karena penggusuran tersebut tanpa ada ganti rugi atau pembelian dengan pemilik lahan.

Warga Desa Tumbang Manggu Joni Setiawan mengatakan, tanah yang digusur oleh perusahaan tersebut milik almarhum Dius Upek Magat yang kini dikuasai pihaknya selaku ahli waris.

“Tanah ini adalah milik almarhum ayah saya, dimana saat ini sudah dikuasai kami selaku ahli waris,”ujarnya menceritakan kepada Kalteng Ekspres.com saat mengadukan permasalahan tersebut, Kamis (23/11/2017).

Joni mengatakan, bahwa pihak perusahaan PT. PSAM telah menggusur tanah dengan seluas kurang lebih 12,44 hektar, milik keluarganya itu. Padahal sebelumnya, keluarganya tidak pernah menjual tanah tersebut kepada pihak perusahaan.

“Dari penggusuran tanah tersebut sebanyak sekitar 35 jenis tanaman kami hilang, akibat digusur pihak perusahaan, diantaranya seperti pohon durian, langsat, nangka, tanggu/duku, cempedak hingga pohon karet yang sudah panen sejak dulu sekitar 10 ribu pohon,”ungkapnya.

Selain menggusur tanaman ditanah keluarganya lanjut dia, pihak perusahaan juga menutup aliran induk Sungai Hambei.

Sementara itu menyikapi masalah ini pihak Desa Tumbang Manggu sudah mengecek ke lokasi.  Pihak desa pun  turut membenarkan adanya penggusuran tanah masyarakat tersebut.

Kepala Desa Tumbang Manggu Herlianto A. Luhing katika dikonfirmasi membenarkan, adanya penggusuran tanah tersebut.

“Kemarin saat ada laporan diri pihak keluarga kami diminta untuk melihat kondisi dari lahan itu, setelah kami cek kondisi dilapangan memang benar sudah digusur,”terang Kades Kamis (23/11/2017).

Dia menerangkan bahwa dari hasil perhitungan desa saat mengukur luasan lahan ada sekitar 12,44 hektar yang terkena gusuran.”Sifat gusuran mereka itu masuk-masuk terus,”ucapnya.

Kedes Tumbang Manggu ini juga mengakui, bahwa setiap hari masyarakat datang ke kantor desa melaporkan bahwa lahan mereka terkena gusur padahal mereka tidak pernah merasa menjual.

“Ada juga warga yang menjual tanah kepada pihak PT. PSAM dan pihak perusahanan sudah mengukur tetapi diluar hak guna usaha (HGU), setelah dilapangan mereka tetap gusur lahan itu,”tambahnya.

Realitanya saat ini, terang Kades, bahwa keberadaan PT. PSAM menciptakan konflik ditengah masyarakat turutama keluarga pemilik lahan.”Kalau laporan secara lisan bahwa tanah milik masyarakat digusur sudah sering,”paparnya.

Baca Juga :  Sekolah dan Perpustakaan SDN-1 Baun Bango Turut Terbakar

Adanya laporan dari masyarakat tersebut pihak desa tidak berani melakukan apa-apa. Bahkan sejauh ini perusahaan belum juga melakukan ganti rugi tanam tumbuh. 

“Disamping itu juga jika perusahaan telah pernah meminta tanda tangan kepala desa dan mantir adat, kemudian sebenarnya surat keterangan tanah (SKT) yang sudah ditandatangani camat, manager perusahaan, kepala desa itu, sebenarnya harus diserahkan untuk dijadikan arsip desa, tapi faktanya pihak perusahaan tidak ada menyerahkan.”urainya.

Menurut Kades, pihak perusahaan selalu meminta agar desa melakukan mediasi dengan masyarakat, akan tetapi tidak adanya SKT sebagai arsip desa pihaknya menolak karena tidak ada data yang real.

Sementara itu saat berupaya di konfirmasi Kalteng Ekspres.com terkait permasalahan tersebut ke Kantor PT PSAM. Pihak perusahaan melalui Humasnya tidak bersedia memberikan keterangan, dengan memilih bungkam. (Ejk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here