Home / Kapuas

Minggu, 6 Februari 2022 - 16:22 WIB

Proyek Pemukiman Transmigrasi Dadahup Dinilai Janggal

Perumahan warga trasmigrasi di Desa Dadahup yang dikeluhkan warga setempat.

Perumahan warga trasmigrasi di Desa Dadahup yang dikeluhkan warga setempat.

KUALA KAPUAS, Kaltengekspres.com – Warga transmigrasi asal Jawa Barat (Jabar) yang menghuni pemukiman transmigrasi di Desa Dadahup Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah (Kalteng) mengeluhkan dengan kondisi bangunan rumah yang disediakan pemerintah melalui instansi terkait.

Pasalnya, proyek pembangunan rumah transmigrasi yang bersumber dari dana APBN Tahun Anggaran 2021 senilai Rp, 24 miliar oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI ini, terkesan dibangun asal-asalan.

Proyek ini sebelumnya diikelola oleh Satuan Kerja (Satker) Dinas Transmigrasi Kabupaten Kapuas. Paket pekerjaannya dilaksanakan oleh PT Unggul Sokaja Pusat Jakarta.

Warga menganggap perumahan yang mereka tempati tidak sesuai spek. Seperti yang dituturkan oleh warga transmigrasi setempat bernama Mulyana, Atin Supriadi dan Rahmansyah.

Mereka mengaku baru menempati perumahan tersebut pada pertengahan Desember 2021 lalu.

“Ada rumah sebagai sampel dibangun lebih baik, namun banyak juga rumah yang dibangun tidak sesuai spek yang ditentukan. Kami bisa membandingkan dengan rumah yang pertama dibikin sampel dibangun lebih baik juga lebih lengkap, sementara rumah kami jauh sekali bedanya dan tidak sesuai spek,” ungkap Mulyana, Sabtu (22/1/2021).

Baca Juga :  Tragis! Kakek Kursani Ditemukan Tewas Mengapung di DAS Kapuas

Mulyana menjelaskan, seperti penopang dinding baja ringannya yang harusnya 9, hanya ada 4 dan tidak dipaku. Bahkan, kuda kudanya ada yang dipaku, sehingga berbahaya rawan menimpa anak anak.

“Rumah tersebut kalau hujan ada yang atapnya bocor , karena sambungan atapnya kejauhan dan tidak rapi. Suainya juga tidak kuat karena jika anak lari atau penghuninya berjalan maka rumah akan bergoyang. Suai bawah mestinya dibor pakai baut tapi malah dipaku saja, kalau ulin dipaku kan pecah, jadi tidak ada kekuatan,” ujar Mulyana.

Ketua rombongan transmigrasi asal Jawa Barat ini menambahkan, bahwa titian atau jembatan juga variatif,  ada yang hanya kayu lokal dan gelagarnya pakai kayu ulin tapi di rumah mereka pakai kasau biasa.

“Untuk syarat hidup kami adalah air bersih mohon dibuatkan sumur bor yang katanya dijanjikan dua rumah satu sumur bor karena bapak bisa bayangkan kami berada di hilir, kawan lokal di hulu, ketika ini dihuni semua, air yang biasa kami mandi menjadi tercemar. Saat ini saja banyak yang kena penyakit kulit, jadi mohon sarana air bersih.” keluh Mulyana lagi.

Baca Juga :  Jual Sabu, IRT di Kapuas Diringkus Polisi

Sementara itu karena banyaknya kejanggalan dan adanya laporan berbagai pihak maka Tim Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI harus turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi di lapangan dan melakukan audit terhadap proyek ini.

Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Kapuas Deni Harsono yang dikonfirmasi terkait masalah ini enggan memberikan komentar, untuk masalah teknis pekerjaan di lapangan ia mempersilakan menghubungi anak buahnya Kabid Perencanaan, Corado.

Kabid Perencanaan Kawasan Transmigrasi Dinas Transmigrasi Kabupaten Kapuas Winfried Corado saat berupata dikonfirmasi beberapa kali tidak berhasil ditemui di kantornya.

Ketika dihubungi melalui WhatsApp selalu mengatakan sibuk dan sedang dalam pemeriksaan. Terakhir Ketika dihubungi lagi tidak memberikan respon dan jawaban. (yan)

Share :

Baca Juga

Kapuas

Danrem 102 Panju Panjung Kunker ke Kapuas 

Kapuas

Dikepung Api, Kakek Sahrul Nyaris Tewas Terpanggang

Kapuas

Pencuri Sarang Walet Diringkus Saat Membawa Hasil Curian

Kapuas

Lakalantas di Jalan Pemuda Nyaris Renggut Korban Jiwa

Kapuas

Dua Budak Sabu Kapuas Dibekuk Polisi 

Kapuas

Kejari Kapuas Musnahkan Barang Bukti Hasil Kejahatan

Kapuas

Kunjungi OPD, Wabup Ingatkan ASN Agar Bekerja Iklas

Kapuas

Mantap..Kecamatan Bataguh Gelar Upacara HUT RI Bergiliran di Desa-Desa