Home / Kotim

Sabtu, 6 Maret 2021 - 09:42 WIB

Sengketa Memanas, Warga dan Karyawan PT KMA Nyaris Bentrok 

Warga dua desa saat menghalau karyawan PT KMA yang hendak memanen paksa di lahan yang disengketakan, Sabtu (6/3).

Warga dua desa saat menghalau karyawan PT KMA yang hendak memanen paksa di lahan yang disengketakan, Sabtu (6/3).

SAMPIT, KaltengEkspres.com– Ratusan masyarakat dua desa yakni Desa Pahirangan dan Tangkarobah Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotim yang tergabung dalam anggota Koperasi Garuda Maju Bersama (GMB) nyaris bentrok dengan pihak karyawan PT Karya Makmur Abadi (KMA), Sabtu (6/3/2021) pagi.

Ketegangan ini terjadi karena pihak perusahaan ingin memanen paksa di kawasan lahan yang masih bersengketa dan menjadi tuntutan masyarakat dua desa tersebut.

Dari pantauan di lapangan, panen paksa yang ingin dilakukan karyawan PT KMA tersebut, dihalau langsung oleh massa yang tergabung di dalam anggota Koperasi GMB. Masyarakat tetap bersikukuh untuk mempertahankan tuntutannya.

Ketua Koperasi GMB Gustap Jaya mengatakan, bahwa pihaknya tetap berusaha mempertahankan hak koperasi, yakni lahan 1.080 hektar sesuai redaksi Diktum kelima yang tertuang didalam Surat keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional Nomor 73 Tahun 2016.

“Kami dua desa yang tergabung di dalam Koperasi GMB, sepakat tetap akan mempertahankan hak kami, apapun yang terjadi pihak perusahaan tidak boleh melakukan aktifitas sebelum adanya kesepakatan dan penyelesaian dari pihak PT KMA, karena menurut hemat kami bahwa Keputusan dari Kementrian Agraria tersebut sudah Ingkrah dan mengikat,”ungkapnya, Sabtu (6/3).

Baca Juga :  Rumah Dinas TNI Ludes Terbakar

Kisruh ini juga dihadir Anggota DPRD Kabupaten Kotim M.Abadi. Ia meminta semua pihak agar menahan diri. Karena dirinya selalu melakukan pendampingan kepada masyarakat dua desa tersebut, dalam bentuk memperjuangan hak koperasi GMB.

Baca Juga :  Duh..Belum Sepakat RAPBDes, Kisruh Desa Batuah Sampai Ditangani Pemkab Kotim

“Saya akan selalu mendampingi masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka, karena saya dipilih dari rakyat dan harus kembali untuk rakyat, terkhusus untuk dua desa ini. Karena ini adalah bagian dari konsikuen saya sendiri,”kata Abadi.

Karena itu ia menegaskan kepada pihak perusahaan, agar jangan memaksakan kehendak sehingga memicu konflik antara masyarakat dan karyawan. Salah satunya dengan melakukan panen paksa di kawasan lahan yang menjadi tuntutan Koperasi GMB, apalagi sampai meminta pendampingan kepada pihak kepolisian.

“Ini sama saja ingin membenturkan masyarakat dengan pihak penegak hukum dalam hal ini pihak kepolisian,”tandasnya. (Ry)

Share :

Baca Juga

Kotim

Diseruduk Truk, Pengendara Motor Vixion Terkapar di Jalanan

Kotim

Laka Tunggal, Pengendara NMax Meninggal di Tempat

Kotim

Turun Kelas, RSUD Murjani Tak Direkomendasi KPU Mengeluarkan Surat SKS

Kotim

Perbaikan Jembatan Handil Gayam Sudah Tahap Pembuatan Pagar

Hukum Kriminal

Tokoh Adat Minta Polisi Bebaskan Kades Pahirangan

Kotim

Polisi Otopsi Temuan Tengkorak Manusia di Cempaga Hulu

Kotim

Camat Pulau Hanaut Bersyukur Kecamatannya Dipilih Jadi Lokasi TMMD ke-109

Kotim

Dua Pemotor Tewas Usai Terlibat Tabrakan