Home / Kapuas

Rabu, 16 September 2020 - 12:31 WIB

Legislator Kalteng Ary Egahni Selalu Perjuangan Kehidupan Masyarakat Dayak 

Anggota DPR RI Dapil Kalteng Ary Egahni.

Anggota DPR RI Dapil Kalteng Ary Egahni.

KUALA KAPUAS, KaltengEkspres.com – Anggota DPR RI Fraksi Nasdem daerah pilihan (dapil) Kalimantan Tengah, Ary Egahni Ben Bahat memang dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan kehidupan masyarakat Dayak. Ary sapaan akrabnya yang juga merupakan anggota panitia kerja RUU Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Badan Legislasi DPR RI itu selalu menyuarakan agar hak-hak masyarakat Dayak bisa terpenuhi.

Salah satu yang lantang ia suarakan adalah tata cara kearifan lokal masyarakat Dayak dalam berladang. Mereka, kata Ary, biasa membuka lahan sebagai tempat berladang dengan cara membakar. Menurutnya, kebiasaan masyarakat adat Dayak tersebut sudah ada sejak zaman Indonesia belum merdeka.

Istri dari Bupati Kapuas, Ben Brahim S. Bahat ini juga menilai bahwa UU nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut perlu pengecualian. Pada poin H dalam UU tersebut disebutkan, dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Baca Juga :  Kapal Bermuatan BBM Illegal Ditangkap Polisi

“Kami itu punya namanya peladang tradisional. Saya perlu jelaskan bahwa orang Dayak sejak dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka, sejak zaman penjajahan pun sudah punya kearifan lokal membuka lahan pertanian dengan membakar. Dan tidak pernah terjadi Karhutla,” ujar Ary.

Anggota Komisi III DPR RI ini mengungkapkan, para peladang lokal mempunyai teknik tersendiri dalam melakukan pembakaran untuk pembukaan lahan. Teknik tersebut, Kata Ery, tidak akan menimbulkan Karhutla.

“Satu bentuk budaya lokal orang Dayak asli. Mereka ketika membuka lahan ada ilmunya. Jadi melihat arah angin, mengawal lahan, dan sebagainya,” kata Ary.

“Jadi misalkan lahan yang akan dibuka luasnya 20 kali 30 meter persegi, hanya bagian itu yang terbakar, tidak lebih dari itu, apalagi sampai terjadi Karhutla, tidak akan mungkin terjadi,” tambahnya.

Baca Juga :  Polisi Temukan Uang Rp100 Juta Milik Kepala Desa Saat Asyik Karaoke

Perjuangan Ary yang cukup panjang akhirnya membuahkan hasil. Setelah ia lantang menyuarakan hak-hak masyarakat adat Dayak di depan Kapolri dan badan legislasi. Keluarlah payung hukum yang melindungi masyarakat adat Dayak.

“Kapolda Kalteng sudah memberikan keringanan bagi masyarakat adat untuk membuka lahan dengan cara dibakar. Para pemimpin di 13 kabupaten dan 1 kota juga akhirnya mengeluarkan perbup dan perwali yang melindungi masyarakat adat dalam membuka lahan secara tradisional,” ucap Ary.

“Doakan agar RUU MHA ini segera dapat dieksekusi menjadi UU MHA. Karena sudah selesai dalam pembahasan tingkat satu dan dua,” paparnya.

Selain menyuarakan keadilan bagi para peladang tradisional masyarakat adat. Ary juga aktif menyuarakan kearifan lokal masyarakat adat Dayak seperti hak Ulayat dan hak atas tanah adat. (as/hm)

Share :

Baca Juga

Kapuas

Warga Kapuas Digegerkan Penemuan Orok Dibuang di Tempat Sampah

Kapuas

Polri Berbagi : Rangkaian HUT Bhayangkara ke74, Polsek Kapuas Hulu Bagi Sembako

Kapuas

Bejat, Gadis ABG Dicekoki Miras Lalu Disetubuhi

Kapuas

Korsleting Listrik, Rumah Warga Pujon Diamuk Jago Merah

Kapuas

Tuntut Kenaikan Gaji, Puluhan Buruh Demo PT KSS

Kapuas

Ben Resmikan Beroperasinya Ambulans Desa Pulau Membulau

Kapuas

Gasak Motor Terparkir, Dua Residivis Diringkus Polisi

Kapuas

Polisi Selidiki Pelaku Pembuang Orok Bayi di TPS
error: Content is protected !!