Warga Pamangka Gelar Ritual Adat Miwit Tuga

Warga Pamangka saat menggelar ritual Sabtu (7/9/2019).

BUNTOK, KaltengEkspres.com – Warga Desa Pamangka Kecamatan Dusun Selatan (Dusel) Kabupaten Barito Selatan (Barsel), mengelar upacara adat tahunan kematian para leluhur (Miwit Tuga) ke 21 di Desa Pamangka sejak 1-9 September 2019.

“Miwit Tuga merupakan kepercayaan turun temurun  yang dapat melindungi masyarakat desa pamangka dan sekitarnya, ” kata Ketua Panitia Yustinus saat dibincang Kalteng Ekspres.com Minggu (7/9/2019).

Ia menjelaskan, adanya acara Miwit Tuga, karena sebelumnya ada perang atau sengketa antara suku mayan dengan suku Dusun dan disini dulunya ada benteng, dengan adanya ritual seperti ini diyakini bisa melindungi. Sekian tahun Desa Pamangka sudah di Bayar dengan suku Dusun.

“Karena perang usai lalu suku Dusun menyerahkan desa pamangka  kepada orang mayan dengan di bayar  tetesan darah. Maka orang mayan pemilik kampung pamangka,”ungkapnya.

Setelah sekian lama, lanjut dia, saat di Barsel ada pemilihan umum di masa kepemimpinan Bupati H Ahmad Diran, ada isu akan ada kerusuhan atau keributan di daerah Barsel.

“Lalu Ahmad Diran selaku bupati  bersama Kapten Sumbu datang dan berjanji pada leluhur atau mahluk gaib, bila tidak ada kerusuhan atau aman dibarsel maka mereka akan membayar hajat berupa kambing, karena panglima disini ada orang sembilan, pemilu aman di barsel maka mereka membukan acara ritual, sekaligus dengan acara usik liau, lalu selaku bupati pada waktu itu diran minta agar ritual ini bisa dilestarikan sehingga diagendakan oleh pemerintah daerah dan diakui oleh dinas pariwisata dan kebudayaan Barsel,” terangnya.

Ditempat yang sama Damang Dusun Selatan Ardianson mengatakan kegiatan acara ritual adat Miwit Tuga merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan terus menerus selama 21 tahun ini.

“Atas adanya kegiatan ini, kami dari kedemangan mendukung penuh, karena acara seperti ini wajib dijaga dan di kesatrian, apalagi dalam kegiatan ini banyak hajat hajat, karena dipercaya roh yang dipuja merupakan pelindung bagi masyarakat. Ritual ini juga tidak hanya dipercaya oleh agama tertentu saja, sehingga ada kearipan lokalnya,”ujarnya.

Baca Juga :  27 Pengendara Terjaring Razia Tim Gabungan

Selain pihak kedemangan mendukung penuh kegiatan, pihaknya juga berharap perhatian  pemerintah daerah untuk melihat kegiatan ini sebagai kearipan lokal yang mengandung berbagai unsur, seperti seni budaya, ritual, religius.

“Dengan adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah, kegiatan seperti ini kita yakini bisa dilaksanakan terus menerus dan menjadi aset yang berharga bagi daerah,”paparnya.

Sementara itu Ketua seksi bidang adat dan Ritual, Atung bin Asep menjelaskan dalam pelaksaan Ritual tersebut pihaknya memberikan persembahan serba sembilan kepada leluhur, karena penyelenggara adat terdiri dari sembilan orang, yaitu ibu bapaknya beranak 7 orang sebagai penyelenggara dan ibunya kembali menjaga bumi dan bapaknya ke atas.

“Persembahan serba sembilan kepada leluhur tersebut terdiri dari bagai macam kue, ayam, kambing serta persembahan lainya, untuk upah mereka yang akan diterima oleh penjaga bumi, lalau dimasak dan dilakukan ritual kembali dan esoknya diserahkan kepada bapak yang diatas,” tandasnya.  (rif)