Connect with us

Kapuas

Awas….Kapuas KLB Campak dan MR, Seminggu Ditemukan 35 Orang Terdeteksi

Petugas Dinkes Kapuas saat menangani korban yang menderita campak dan MR.

KUALA KAPUAS, KaltengEkspres.com-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terhadap penyebaran penyakit campak dan Measles Rubella (MR) di daerah setempat.

Hal ini dilakukan karena baru-baru ini ditemukan atau terdeteksinya penularan wabah penderita campak dan Measles Rubella (MR) pada satu titik fokus kejadian dengan jumlah penularan dianggap menghawatirkan dalam kurun waktu yang singkat, sebagaimana ketentuan dari Kementerian Kesehatan Pusat.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinkes Kapuas Apendi. Menurut dia, saat ini telah ditetapkan Kapuas menjadi status KLB Campak dan MR. Sebab dalam seminggu terakhir ini berdasarkan laporan serta tindak lanjut Dinkes melalui Puskesmas terdata sebanyak 35 orang penderita yang terdeteksi.

“Itu ada dalam satu lingkungan atau lingkaran oreientasi kejadian,” ujar Apendi pada Senin (10/9).

Apendi mengaku, sudah memerintahkan kepada seluruh jajarannya di Puskesmas maupun di dinas untuk terus melakukan pengawasan ketat penderita maupun lingkungan yang saat ini sedang terinfeksi penularan penyakit tersebut. Karena 35 yang diduga campak dan rubella ada sebanyak 18 kasus merupakan kasus lama yang terjadi beberapa bulan lalu di Kecamatan Kapuas Tengah dan Kapuas Hilir yang telah terkonfirmasi positif campak dan rubella.

“Ditambah 17 kasus yang terjadi dalam sepekan terakhir ini tentu saja sangat mengejutkan, sebab hanya dalam kurun sepekan saja jumlahnya hampir sebanding dengan tahun lalu,” kata pria low profile ini.

Dia juga menyebutkan, 17 kasus baru yang terjadi adalah terdiri dari 7 kasus ditemukan di wilayah Puskesmas Melati Kecamatan Selat, 2 kasus di Puskesmas Anjir Kecamatan Kapuas Timur dan 8 kasus di Puskesmas Sei Tatas Kecamatan Pulau Petak.

Terhadap penderita sudah dilakukan pengobatan intensif dan juga melakukan pelacakan kasus baru serta terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mengikutkan anaknya dalam program Kampanye Imunisasi MR yang saat ini masih berlangsung.

“Mumpung saat ini sampai akhir September kampanye imunisasi MR masih berlangsung, maka segeralah bawa anak kita (sampai usia 15 tahun) untuk ikut suntik imunisasi. Karena kalau program ini berakhir maka orang tua harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendapat imunisasi.

Suntik ini sekali saja namun efeknya seumur hidup. Adapun penyelidikan Epidemiologi sejenis survey untuk mengamati penyebaran penyakit itu, kini terus kami lakukan,” ujarnya.

Kemudian sambung Aped, saat ini pihaknya minta kepada seluruh jajaran baik kesehatan seperti puskesmas pustu, dan juga sektor lainnya yaitu Kemenag dan Dinas Pendidikan untuk meningkatkan himbauan di sekolah dan masyarakat luas akan pentingnya imunisasi MR ini.

“Ini kesempatan kita menyelamatkan generasi kita, jangan menyesal kemudian karena dampak virus ini. Segera imunisasikan anaknya. Suntik ini steril dan tidak ada efeknya, jangan percaya berita bohong,” pesan Apendi.

Ditempat yang sama Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kapuas, dr Tri Setia Utami 17 kasus baru ini terjadi dalam penyebaran di lingkungan sekplah dan lingkungan rumah (teman bermain), disebutkanya juga campak dan rubella ini memiliki efek yang sangat berat yakni diantaranya bisa menyebabkan anak menjadi cacat, lumpuh, bisu, tuli dan lainnya.

Diterangkanya bahwa penyakit campak dikenal juga sebagai Morbilli atau measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan karena virus, 90% anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak, disini manusia diperkirakan merupakan satu-satunya reservoir, sehingga sangat dimungkinkan penyakit ini dapat dimusnahkan dari bumi ini.

Penyebab penyakit campak ini, adalah paramyxoviridae (RNA) jenis morbillivirus yang mudah mati karena panas dan cahaya, yang mana cara penularanya mulai dari orang ke orang baik melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung. Dengan masa penularannya 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodormal), yaitu pada hari 1-3 hari pertama sakit.

Sementara masa ingkubasi penyakit campak adalah 7-18, rata-rata 10 hari. Gejala klinis penyakit campak adalah panas badan biasanya 38 derajat Celsius selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau lebih gejala batuk, pilek, mata merah atau mata berair. Khas ditemukan koplik’s spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam (mukosa bucal).

Bercak kemerahan/rash yang dimulai dari belakang telinga pada tubuh berbentuk makulo popular selama tiga hari atau lebih, beberapa hari keseluruhan tubuh. Setelah 1 minggu sampai 1 bulan bercak kemerahan makulo popular berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit bersisik. Komplikasi penyakit campak adalah diare,broncopnemonia, malnutrisi, otitis media, kebutaan, encephalitis dan subakut sclerosing panencepalitis (SSPE).

“Ciri-ciri penyakit ini dimulai dari tubuh demam, kemudian bisa dibarengi batuk filek, mata merah dan muncul ruam-ruam merah atau yang biasa disebut orang kerumut. Penyakit ini penyebarannya cepat sekali melalui percikan udara, orang yang terserang campak rubella kalau dia bersin saja di dalam ruangan dan sekitar 2 jam kemudian setelah dia meninggalkan ruangan maka virus itu masih ada di dalam ruangan,” katanya.

Kemudian jika anak yang sudah diimunisasi, bisa saja juga terserang namun efeknya ringan saja. Sedangkan anak yang belum diimunisasi, dampaknya berat seperti kejang karena ada peradangan di otak, radang paru, gizu buruk, diare dan bisa smpai meninggal dunia.

Sedangkan jika tertular ke ibu hamil muda, maka akan menyebabkan keguguran atau kalaupun tidak keguguran maka anak yang dilahirkan nanti akan menyebabkan catat bawaan yang berat seperti tidak bisa jalan, bisu, katarak, tuli, kebocoran jantung dan lainnya.

“Adapun kondisi para anak yang diduga kuat mengalami campak dan rubella itu saat ini sudah membaik dan yang sekolah saat ini diistirahatkan dan diliburkan dulu agar mengurangai kontak dengan teman dan juga mengurangi kontak di rumah. Anak yang terserang kami sarankan menggunakan masker,” tutupnya. (so)

loading...
Advertisement
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement