Connect with us

Seruyan

Kapolres Sebut 90 Persen Karhutla Terindikasi Ulah Manusia

Kapolres Seruyan AKBP Ramon Zamora Ginting

KUALA PEMBUANG, KaltengEkspres.comMemasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah dianggap sebagai agenda tahunan yang lazim terjadi, termasuk di Kabupaten Seruyan.

Sayangnya, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh oknum-oknum yang memang sengaja melakukan pembakaran, bukan karena faktor alam.

“Saya yakin 90% karhutla yang terjadi diberbagai daerah termasuk di Seruyan adalah ulah manusia, sedangkan 10% nya faktor alam,” kata Kapolres Seruyan AKBP Ramon Zamora Ginting di Kuala Pembuang, Jum’at (24/8/2018).

Ia mengatakan, meskipun ada kemungkinan karhutla terjadi karena faktor alam, tapi hingga saat ini sebagian besar masih diakibatkan oleh pihak manusia.

Pembakaran hutan dan lahan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk memperluas area perkebunan, seperti perkebunan sawit dan karet.

“Mereka sengaja buka lahan dengan cara membakar, memang kemungkinan yang disebabkan oleh faktor alam itu tidak bisa dipungkiri tapi persentasenya sangat kecil, sebagian besar masih diakibatkan oleh kesengajaan manusia,”ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Seruyan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, masih banyak opsi lain yang masih bisa dilakukan.

“Masih banyak opsi lain yang bisa dilakukan untuk membuka lahan, apa untungnya dengan membakar? Banyak kerugian yang didapat dari karhutla,”terangnya.

Ia menjelaskan, kerugian yang didapat dari membuka lahan dengan cara membakar sangatlah banyak, terutama sangat berdampak pada lingkungan dan juga bisa mengancam kesehatan jika terjadi kabut asap.

“Oleh karena itu, sekarang jika ada yang memang sengaja membakar hutan atau lahan, kita akan tindak tegas, akan langsung kita police line lahannya dan kita sita,”tegasnya. (vs)

loading...
Advertisement
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement