Connect with us

Kotim

Potensi Karet Kotim Dilirik Investor Belanda

Kadin Kotim saat menggelar forum bisnis Sampit.
SAMPIT, KaltengEkspres.com –Potensi sektor perkebunan karet dan rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini mulai dilirik investor asing, salah satunya negara Belanda. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Kamar Dagang dan Industrin (Kadin) Kabupaten Kotim Susilo kepada sejumlah awak media Rabu (25/4/2018).

Sosilo mengatakan, untuk potensi karet Kotim ini selain Belanda yang berminat berinvestasi, juga ada dari dalam negeri yakni Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (Jatim). Dua daerah tersebut siap berinvestasi dan mengelola hasil karet Kotim.  Sementara untuk potensi rotan dilirik Kabupaten Cirebon Jawa Barat (Jabar).

 “Hanya saat ini masih perlu penjajakan dengan melakukan survey dulu, kalau memang bahan bakunya masuk standar dan mencukupi permintaan, ada kemungkinan pengusaha dari Eropa tersebut siap masuk ke Sampit,”ujarnya.

Susilo menjelaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Kotim sudah menyatakan dukungannya terhadap langkah Kadin dalam mendatangkan sejumlah investor ke Kotim. “Sebetulnya kita sudah diminta pihak investor untuk menyiapkan produk saat ini. Hanya kita belum bisa menyiapkan produk yang sesuai dengan standar yang diinginkan para investor dari Belanda tersebut. Sebab mereka ini menggunakan alat khusus untuk mengepress karetnya,”papar Sosilo.

Menurut Sosilo, peluang untuk mengirim hasil kerajinan ke pasar Eropa cukup terbuka lebar. Hanya saja, syarat untuk mengirimkan produk ke Eropa cukup ketat. 

“Untuk kerajinan ke Eropa, bahan 
pewarna yang digunakan tidak boleh memakan bahan kimia, tetapi menggunakan bahan madu khusus untuk pewarnanya,” ujar Susilo.

Untuk itu lanjut dia, pihaknya terus mendorong UMKM di Kotim agar memanfaatkan peluang dalam pengembangan potensi usaha yang masih sangat terbuka lebar. Apalagi Kabupaten Kotim ini memiliki potensi bahan baku untuk diolah menjadi hasil kerajinan. 

“Hanya saja saat ini masih terkendala SDM untuk mengelolanya. Sehingga bahan baku tersebut biasanya dikirim ke daerah lain untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi,”tandasnya. (MR)
loading...
Advertisement
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement