Connect with us

Seruyan

Miris! Hidup Sebatang Kara, Nenek Munti Tidak Bisa Melihat, Sering Terjatuh Saat Memasak Sendiri

Nenek Munti, saat menceritakan kepada wartawan Kalteng Ekspres.com kehidupannya sambil berurai air mata Sabtu (7/4).
KUALA PEMBUANG, KaltengEkspres.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan harus benar-benar mendata warganya yang hidup dalam garis kemiskinan. Pasalnya, baru seminggu terungkapnya seorang warga yang tinggal di gubuk bekas kandang ayam.

Kali ini giliran seorang nenek bernama Munti yang hidup sebatangkara alias sendiri di rumahnya yang sangat sederhana terletak di Jalan Ki Hajar Dewantara Gang Muamalah Kelurahan Kuala Pembuang II Kecamatan Seruyan Hilir. Mirisnya, selain hidup sebatangkara, nenek berusia 67 tahun ini tidak bisa melihat atau mengalami kebutaan.

Munti menuturkan, kebutaan yang dialaminya ini sudah berlangsung sejak tiga tahun silam. Sebelumnya, ia telah berusaha untuk berobat hingga ke Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel). Namun usahanya untuk berobat ini belum juga membuahkan hasil. Alih-alih sembuh kata dia, malah kebutaan semakin parah. Sehingga ia tidak bisa melihat sama sekali.

“Saat berobat lalu, barang-barang berharga saya sudah habis dijual. Tapi ketika berobat disana (Banjarmasin) tidak sembuh juga,” katanya saat ditemui Kalteng Ekspres.com di rumahnya, Sabtu (7/4/2018).

Munti menceritakan, dulunya sewaktu masih sehat dia bekerja sebagai nelayan di Desa Sungai Perlu Kecamatan Seruyan Hilir.

“Dulu waktu masih sehat, saya sering bolak-balik Kuala Pembuang – Sungai Perlu,”ungkapnya.

Karena tidak memiliki anak setelah suaminya meninggal. Maka ketika menderita penyakit itu ia hanya berusaha sendiri mengupayakan untuk berobat. Bahkan pekerjaan di rumahnya juga dilakukannya sendiri, seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, meski dalam kondisi tidak melihat.

Akibatnya, tidak jarang ia harus mengalami jatuh maupun terperosok di dapurnya, karena kondisi dapur yang sudah kurang layak untuk digunakan. Bahkan Lantai dapur yang sudah mulai lapuk dimakan usia banyak berlobang.

Menurut dia, akibat kebutaan itu ia tidak bisa bekerja. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhannya seperti membeli beras maupun keperluan sehari-hari, Munti dibantu oleh tetangga maupun keluarga disekitar rumahnya.

“Untuk memasak, saya kira-kira saja, karena sudah terbiasa, kadang juga sering gosong karena saya tidak melihat,”terangnya.

Meskipun kondisinya demikian Munti masih rajin beribadah. Walaupun dia kesulitan untuk melihat waktunya, suara azan cukup membantunya dalam menunaikan ibadahnya.

Sementara ketika dimintai keterangan terkait dengan pernahkah Pemerintah Daerah (Pemda) Seruyan melalui Dinas Sosial yang setiap tahun melakukan pendataan terhadap warga miskin mengunjunginya. Ia mengatakan, selama tiga tahun dirinya tidak pernah didata ataupun didatangi oleh dinas terkait tersebut.

“Tidak pernah,”ungkap Munti dengan raut wajah sedih sambil sesekali menyeka air matanya.

Munti berharap, jika ada pihak yang peduli dengannya agar bisa mengobati matanya. Ia hanya menginginkan matanya tersebut kembali normal agar bisa melihat dan bekerja seperti sediakala. (vs)
loading...
Advertisement
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement