Connect with us

Potret Desa

Teror Buaya di Muara Sungai Mentaya Tidak Sekadar Ancaman, Keganasannya Pertanda Perubahan Iklim

Perubahan iklim membuat hilangnya sumber makanan buaya, hilangnya sumber makanan ini membuat buaya mengganas menyerang warga di bandaran Sungai Mentaya

Sesudah kesekian kali terjadi jeritan kesakitan dirasakan sejumlah warga di pinggiran muara Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Kesakitan itu akibat luka robek yang menganga karena sambaran buaya. Pihak Pos jaga Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit telah menyerukan agar masyarakat berhati-hati, perubahan iklim membuat buaya kekurangan sumber makanan, sehingga menjadi teror bagi warga di bantaran Sungai Mentaya.

Matahari belum memancarkan teriknya, warga Desa Penyaguan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotim, masih mempersiapkan dirinya untuk memulai beraktivitas, Sabtu (14/07/2018) pagi itu. Suasana pagi yang hening dan sejuk kala itu, tiba-tiba dikagetkan dengan suara teriakan warga yang kesakitan berasal dari salah satu jamban lanting di tepian sungai.

Tidak hanya erangan yang memecahkan kesunyian, terikan spontan warga “Buaya! Buaya! Buaya” juga mengagetkan warga lainnya. Teriakan erangan kesakitan itu dari suara Tasman (45) tumit kanannya robek dan patah akibat sambaran buaya yang tiba-tiba saat dirinya mandi di lanting jamban, waktu itu sekitar pukul 05:30 waktu Indonesia bagian barat.

Biasanya, serangan buaya itu dilakukan diam-diam, sasarannya diterkam dan diseret ke dalam air hingga tewas. Meskipun sial, saat itu Tasman masih sempat menarik kakinya dan menghindar dari terkaman buaya. Untungnya Tasman tidak sendiri, serangan buaya itu membuat kegaduhan warga sehingga buaya itu segera menghidar dari manusia. Setelah serangan itu, istri dan anaknya serta sejumlah segera menghampiri Tasman dan mengevakuasi dirinya dari jamban.

Dari keterangan Amet warga setempat yang dimintai informasi oleh Kaltengekspres.com diungkapkan, sudah sering serangan buaya di desanya itu, dan Tasman kali ini menjadi korban terkini.
Sebelumnya,pada Kamis sore 8 Maret 2018, buaya juga menyerang seorang perempuan warga Desa Ganepo, Kecamatan Seranau. Jumi (49) diserang buaya saat mencuci pakaian.

kejadian berawal ketika korban sedang mencuci pakaian dan mandi di batang Sungai Mentaya tepatnya di daerah penyeberangan kelotok setempat. Namun naasnya, saat asik mandi, korban langsung diserang buaya di lengan kirinya. Beruntung Jumi sempat berteriak meminta tolong, hingga terdengar oleh suaminya, Edi (50). Saat itu juga suaminya ini langsung menolong korban hingga gigitan buaya tersebut lepas. Setelah itu korban langsung dievakuasi ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan medis.

Ditpolair Kotim Kombes Badaruddin Saat di konfirmasi membenarkan adanya kejadian serangan buaya terhadap warga setempat. “Hanya tidak ada korban jiwa. korban yang di serang buaya tersebut mengalami luka sobek di bagian lengan sebelah kiri,”ungkapnya.

Serangan juga dialami seorang remaja bernama Yapqahu Kauli (17), warga Desa Ganepo Kecamatan Seranau ini diserang buaya saat hendak mandi di lanting yang berada di Sungai Remiling Senin (2/4/2018), sekitar pukul 18.00 WIB. Akibat serangan ini tangan kiri remaja ini mengalami luka robek akibat gigitan buaya tersebut.

Saat itu Kauli hendak mandi di sungai desa setempat, saat remaja itu hendak mengambil air sungai, tiba-tiba datang buaya langsung menyerang dengan menggigit tangan korban.

“Beruntung gigitan buaya tersebut lepas sehingga korban berhasil menyelamatkan diri dari serangan buaya itu, saat ini korban sudah dilarikan ke RSUD Murjani Sampit untuk mendapat perawatan,” ungkapnya belum lama ini.

Semetara itu, salah seorang penggiat sosial Hadi Utomo, yang merupakan Ketua Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampit, berpendapat mengganasnya buaya-buaya di perairan Sungai Mentaya ini akibat adanya perubahan iklim.

“Saya yakin adanya konversi lahan menyebabkan hilangnya habitat sumber makanan dari buaya ini. Akibatnya buaya ini mencari mangsa di sekitar pemukiman penduduk yang akhirnya juga memangsa manusia,” kata Hadi, Sabtu (14/07/2018).

Namun sayangnya, di Kabupaten Kotim ini tidak pernah terdengar ada penggiat lingkungan, baik itu lembaga pemerintahan maupun lembaga swadaya masyarakat yang serius melakukan pendampingan di bidang lingkungan hidup, demikian kata Hadi.

“Beda di Palangka Raya atau Kotawaringin Barat, di sana banyak lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi pelestarian lingkungan. Seperti yang pernah saya baca di Kotawaringin Barat itu ada NGO yang mendapat program dari ICCTF, itu bagus sekali melakukan program mitigasi perubahan iklim,” kata Hadi.

Diketahui dalam melaksanakan program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Yasan Orangutan Indonesia (Yayorin) mengembangkan program “Konservasi Ekosistem Nipah dan Hutan Penyangga Bagian Timur Suaka Margasatwa Sungai Lamandau.

Mitigasi yang dilakukan Yayorin, yaitu melakukan pencegahan kebakaran akibat sistem perladangan tebas bakar dan alih fungsi ekosistem nipah dan hutan penyangga SM sungai Lamandau menjadi perkebunan sawit.
Kegiatan mereka dengan meningkatkan kapasitas masyarakat petani dalam pengelolaan lahan tanpa bakar. Petani di lokasi kegiatan yaitu Desa Tanjung Putri, mendapat pelatihan, pengembangan dan promosi usaha mata pencaharian alternatif, peningkatan kapasitas dalam pengamanan dan pengawasan kawasan hutan, pembentukan kelompok pengawasan dan pengamanan api dan tindakan ilegal kehutanan.

Menurut Hadi, jika program ini juga dilakukan Kotim tentu juga bisa mengurangi risiko dari perubahan lingkungan, dari hutan menjadi perkebunan sawit yang juga banyak terjadi di Kotim.

“Sayangnya, di Kotim sepertinya tidak ada lembaga yang mendapat program dari ICCTF ini. Mungkin karena kurangnya informasi. Saya hanya berharap ada lembaga yang berkompeten bisa melakukan program mitigasi di daerah-daerah muara Sungai Mentaya, karena sudah banyak yang sudah menjadi korban serangan buaya,” pungkas Hadi. (Cholid Tri Subagiyo / Muhammad Riandi)

loading...
Advertisement
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement